• KANAL BERITA

Iwan Pranoto: Sudahi Kerisauan Guru Atas Metode Pembelajaran Matematika

Prof Dr Iwan Pranoto (kiri) menerima cinderamata dari Eko Nugroho MBA, Presdir Dreamlight World Media, seusai seminar. (suaramerdeka.com/dok)
Prof Dr Iwan Pranoto (kiri) menerima cinderamata dari Eko Nugroho MBA, Presdir Dreamlight World Media, seusai seminar. (suaramerdeka.com/dok)

UNGARAN, suaramerdeka.com - Bagaimana metode paling ideal dalam menyampaikan pelajaran matematika pada siswa, terutama pada anak usia dini, sampai sekarang masih merisaukan para guru. Menurut Prof Dr Iwan Pranoto, anggota Indonesian Methematical Society dan Guru Besar ITB, hal itu harus menggunakan cara nonformal dengan menyesuaikan usia siswa.
 
"Selama ini dalam penyampaian matematika, guru masih berkutat pada 'kebilangan'. Karena guru terlalu sibuk mengurusi bilangan, apalagi bilangan nol. Jadi mestinya bukan yang terlalu formal hitung-hitungan. Karena sementara anak-anak belum tuntas bermain, masih harus menerima pelajaran formal seperti itu," kata Iwan Pranoto, pada Seminar SmartPoint: Kecakapan Matematika di Zaman Digital.
 
Seminar yang digelar di Studio Dreamlight World Media (DWM) Ungaran, Senin (9/9) itu diikuti oleh para kepala PAUD dan Sekolah Dasar (SD) se Kabupaten Semarang dan siswa SMK Visi Media Indonesia (VMI).

Lebih jauh tentang bagaimana mengembangkan kecakapan matematika di zaman digital, Prof Iwan mengatakan, tampaknya sudah tidak relevan murid duduk di ruang kelas, kalau materi yang diberikan adalah pengetahuan yang sudah kadaluwarsa.

"Sekolah harus memahami bahwa zaman itu sudah berubah dengan cepat, maka harus dicari kecakapan apa yang harus dimiliki oleh murid kita. Sayangnya dunia pendidikan sudah melupakan kecakapan itu. Lalu masih perlukah kecakapan dalam berhitung? Manurut saya tetap perlu, tapi tidak bisa menghitung secara cepat, karena ini akan digantikan oleh mesin digital," kata Iwan Pranoto.

Guru besar yang pernah bekerja sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Kedubes RI untuk India ini mengatakan, bahwa jika cara mengajar kita masih seperti itu, maka seharusnya kita sudah harus digantikan oleh teknologi mesin. "Karena teknologi itu bisa menilai suatu pekerjaan murid. Atau mengenali murid, mengenali diri kita, dan bahkan juga mendiagnosa penyakit," pungkasnya.


(Bambang Isti/CN26/SM Network)