• KANAL BERITA

Babak Baru Perang Dagang Isyaratkan Melemahnya Pertumbuhan Ekonomi Global

Foto: istimewa
Foto: istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine Kosijungan mengatakan, masuknya perang dagang pada babak baru di sepanjang bulan Agustus yang lalu masih mengisyaratkan pertumbuhan ekonomi global yang kian melemah.

Memasuki bulan September ini, Amerika Serikat kembali melemparkan kenaikan bea masuk kepada produk-produk impor asal China sebesar 15 persen dengan total nominal setara dengan USD 300 miliar pada barang-barang yang menyerap konsumsi pasar di Amerika Serikat dalam jumlah besar seperti televisi dan juga alas kaki.

"Hal ini bahkan lebih buruk dari rencana awal kenaikan tarif yang disampaikan Washington DC pada awal bulan lalu dengan besaran tarif 10 persen. Sementara itu China mengenakan bea masuk kepada produk-produk impor asal Amerika Serikat dalam kisaran lima hingga 10 persen yang setara dengan nominal USD 75 miliar," kata Pingkan.

Masih jelas dalam ingatan publik bahwa pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 yang berlangsung di Osaka dan mempertemukan kedua negara ini memang sempat meredakan tensi dari kedua pihak. Namun, nyatanya hal tersebut hanya bertahan dalam hitungan minggu saja sebelum akhirnya tensi dagang kedua negara ini kembali memanas.

Bahkan pada perundingan KTT G-7 yang diadakan di Biarritz, Perancis pada bulan Agustus yang lalu perang dagang antara Amerika Serikat dan China tidak luput menjadi sorotan dari negara-negara yang hadir.

"Ini dikarenakan dampak dari perang dagang tersebut semakin hari semakin dirasakan banyak negara serta turut berpengaruh dalam memperlambat pertumbuhan ekonomi global," tandas Pingkan.


(Andika Primasiwi/CN26/SM Network)