• KANAL BERITA

Implementasi Kemudahan Berusaha Perlu Ditingkatkan

Tekan Dampak Perang Dagang

Foto: istimewa
Foto: istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Perang dagang yang sudah terjadi sejak 2018 yang lalu belum juga menunjukkan tanda-tanda akan selesai. Lebih jauh lagi, perang dagang antara Amerika Serikat dengan China ini justru membawa dampak pada negara-negara di dunia dan juga ekonomi global. Pemerintah Indonesia perlu memperkuat implementasi kemudahan berusaha untuk menekan dampak perang dagang terhadap ekonomi nasional.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine Kosijungan mengatakan, urgensi untuk menciptakan kemudahan berusaha adalah untuk mendatangkan investasi sebesar-besarnya di Indonesia. Bank Dunia sudah memperkirakan, jika pertumbuhan ekonomi amerika Serikat dan China menurun 1,0 pp (percent point) maka akan berpengaruh terhadap menurunnya 0,3 persen dari pertumbuhan PDB Indonesia.

Tren serupa sebenarnya juga terjadi pada tahun lalu ketika perang dagang mulai bergulir namun Indonesia dapat terhindar dari gejolak berkepanjangan akibat sokongan dari Foreign Direct Investment (FDI) yang masuk. Untuk tahun 2018 sendiri, realisasi investasi terbesar ada pada sektor jasa dengan capaian 54,1 persen dengan angka Rp 177,5 triliun disusul kemudian oleh sektor manufaktur dengan capaian 25.4% dengan angka Rp 83,6 triliun.

Derasnya aliran investasi yang masuk pada sektor jasa tidak luput dari pesatnya perkembangan teknologi finansial yang mendapat suntikan dana dari FDI. Untuk itu, pemerintah perlu memperhatikan kemudahan dalam berinvestasi.

“Implementasi OSS perlu terus diperkuat lewat sinkronisasi dan harmonisasi peraturan pusat dengan daerah. Peningkatan kualitas infrastruktur telekomunikasi dan internet juga perlu jadi prioritas di tiap daerah supaya implementasi OSS bisa dimaksimalkan,” jelasnya.

Perang dagang juga patut mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Pergeseran pertumbuhan ekonomi global hingga saat ini masih dalam tren negatif. Ada beberapa faktor yang turut mempengaruhi seperti kondisi geopolitik dan juga harga internasional beberapa komoditas vital seperti minyak yang terpengaruh oleh adanya perang dagang. Bukan tidak mungkin jika krisis ekonomi seperti yang terjadi pada tahun 2008 dan 1998 kembali terulang.


(Andika Primasiwi/CN26/SM Network)