• KANAL BERITA

BBWS Pemali Juana Galakkan Metode SRI ke Petani

PANEN RAYA: Kepala BBWS Pemali Juana, Ruhban Ruzziatno (kiri) bersama Asisten  Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Pekalongan, Hari Suminto (dua dari kiri), Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Pekalongan, Siswanto (tiga dari kiri), serta tamu undangan lainnya, mengikuti prosesi panen raya di Daerah Irigasi Pesantren Kletak, Desa Wonoyoso, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan. (suaramerdeka.com / dok)
PANEN RAYA: Kepala BBWS Pemali Juana, Ruhban Ruzziatno (kiri) bersama Asisten Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Pekalongan, Hari Suminto (dua dari kiri), Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Pekalongan, Siswanto (tiga dari kiri), serta tamu undangan lainnya, mengikuti prosesi panen raya di Daerah Irigasi Pesantren Kletak, Desa Wonoyoso, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan. (suaramerdeka.com / dok)

KABUPATEN PEKALONGAN, suaramerdeka.com -  Sebagai solusi irigasi persawahan bagi petani di saat musim kemarau, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana terus menggalakkan metode System of Rice Intensification  atau yang biasa disebut SRI. Pada 2019 ini, balai yang berada di bawah naungan Kementrian Pekerjaan Umum Direktorat Sumber Daya Alam ini memilih tiga lokasi daerah irigasi (DI) di kecamatan yang ada di Kabupaten Pekalongan, untuk menerapkan metode tanam yang dikatakan berasal dari India ini

Kepala BBWS Pemali Juana, Ruhban Ruzziatno metode SRI ini memungkinkan petani untuk melakukan efisiensi air dalam bercocok tanam. Selain itu, SRI ini mengajarkan petani untuk tidak lagi menggunakan metode konvensional yang kerap disebut memakai air secara berlebihan dalam menanam benih padi.

''Mengubah kebiasaan petani tidak mudah dari metode konvensional ke metode SRI ini. Bisa dikatakan dalam metode SRI, padi bukan tanaman air tapi tanaman yang membutuhkan air. Jadi, tidak perlu padi direndam terus menerus tapi cukup dengan air yang membuat lahan menjadi  nyemek-nyemek ,'' kata Ruhban usai dari melakukan panen raya di Kabupaten Pekalongan, Selasa (27/8).

''Hal ini yang membuat anakannya nanti lebih banyak. Sebab dalam metode SRI, petani menanam setangkai demi setangkai dalam jarak tertentu. Berbeda dengan cara konvensional yang segerombol dalam sekali tanam,'' lanjutnya.

Buat Sampling

Satu di antara wilayah yang sudah melakukan panen yakni di daerah irigasi Pesantren Kletak, Desa Wonoyoso, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan. Di sana BBWS Pemali Juana membuat  sampling  berupa denfram seluas kurang lebuh lima hektare.

''Lewat program percontohan ini, kami ingin  petani meningkatkan kesejahteraan daripada sebelum sebelumnya. Sebab dengan metode konvensional panen yang didapat hanya lima hingga ena ton per hektare, sedangkan dengan metode SRI itu bisa 9-12 ton per hektare,'' jelas Ruhban.

Dalam panen raya di Desa Wonoyoso itu rata-rata per hektare, memanen padi sebanyak 9 ton. Pihaknya berharap apa yang sudah dilakukan para petani sejak memulai menanam pada Mei kemarin, bisa ditularkan pengalamannya kepada petani yang lain.

''Kami ingin mendidik petani menularkan ilmu menjadi petani yang cerdik. Bisa mengatur dirinya sendiri dan meningkatkan memproduksi sendiri. Kami ingin petani memanfaatkan air seminimal mungkin. Sebab air sangat berharga berharga untuk kebutuhan lain selain pertanian,'' imbuh Ruhban.

Metode SRI bagi petani juga menguntungkan. Sebab mereka hanya perlu 7 kilogram bibit untuk ditanam per hektarenya. Adapun dengan cara konvensional butuh 25 kilogram bibit dalam luasan yang sama

''Biaya operasional hanya selisih ratusan ribu. Namun nilai jual, selisihnya bisa sampai Rp 10 jutaan. Kami tidak lelah memberikan edukasi. Ke depan kami juga akan mengajak studi banding ke daerah yang sudah metode SRI dan info pangsa pasarnya. Saat ini beras organik sangat diminati. Sebab kalangan menegah ke atas, kebanyakan sudah alergi pada beras yang terdapat bahan-bahan kimia dalam proses penanamannya,'' tandas Ruhban.


(M Alfi Makhsun/CN26/SM Network)