• KANAL BERITA

Cagar Budaya Rentan Jadi Sasaran Vandalisme

Foto: istimewa
Foto: istimewa

SLEMAN, suaramerdeka.com - Cagar budaya semestinya  dilestarikan sebagai suatu aset bangsa yang tidak ternilai harganya. Namun sayangnya, kesadaran sebagian kalangan masyarakat tentang hal itu masih kurang.

Realitas ini dapat dilihat dari kondisi beberapa cagar budaya yang kurang terurus bahkan tidak jarang menjadi sasaran aksi corat-coret. Seperti yang tampak di jembatan rel kereta api Pangukan Sleman beberapa waktu lalu, sebelum akhirnya bupati dan jajarannya turun langsung ke lapangan untuk membersihkan coretan tersebut dengan mengecat ulang tembok.

Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Sleman Aji Wulantara mengatakan, sanksi tentang perusakan cagar budaya sudah diatur secara tegas dalam UU Nomer 11 Tahun 2010. Pada pasal 105 disebutkan pelaku perusakan terancam sanksi penjara minimal 1 tahun dan maksimal 15 tahun, serta denda paling sedikit Rp 500 juta dan paling banyak Rp 5 miliar. "Mungkin masyarakat banyak yang belum mengerti kalau vandalisme itu merusak cagar budaya," katanya, Senin (26/8).

Dia mengungkapkan, cagar budaya utamanya yang tidak ada pengelola, rentan menjadi target empuk pelaku vandalisme. Cukup banyak contoh yang ditemukan. Selain jembatan rel Pangukan, selokan Van der Wijck di Desa Banyurejo, Tempel juga sering menjadi sasaran.

Menghadapi persoalan ini, pihaknya tidak serta-merta menerapkan langkah represif penegakan hukum. Namun lebih diutamakan upaya antisipatif dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat, serta pembinaan terhadap kelompok remaja mengingat golongan usia ini rentan melakukan aksi vandalisme.

Cara pencegahan lainnya dengan memasang papan nama cagar budaya, dan menambah lampu penerangan atau CCTV di sekitar lokasi. Diharapkan pula masyarakat ikut berperan melakukan pengawasan. Hingga saat ini ada sebanyak 907 cagar budaya yang telah ditetapkan.

"Masyarakat sudah mulai aktif mengawasi seperti kejadian di selokan Van der Wijck, warga sendiri yang bergerak menelusuri pelakunya. Pernah berhasil ditemukan pelakunya adalah pelajar SMP kemudian diminta membersihkan," ujar Aji. 

Sementara itu, Bupati Sleman Sri Purnomo menegaskan, aksi nyata menolak vandalisme yang telah dilakukan Pemkab merupakan seruang kepadaasyarakat terutama anak-anak muda agar selalu menjaga kebersihan lingkungan. "Kita ajak generasi muda untuk ayo menjaga lingkungan. Kalau ada yang melakukan vandalisme, kita ingatkan,” katanya.

Menurut Sri, kemungkinan besar pelaku vandalisme tidak mengetahui bahwa perbuatannya merupakan perbuatannya telah merusak area cagar budaya. Oleh karena itu, dia menilai penting adanya sosialisasi


(Amelia Hapsari/CN26/SM Network)