• KANAL BERITA

Sekolah Kebhinnekaan Latih Toleransi

LEPAS MERPATI: Para tokoh agama melepas merpati simbol perdamaian sebagai tanda dimulainya Sekolah Kebhinnekaan.  (suaramerdeka.com / dok)
LEPAS MERPATI: Para tokoh agama melepas merpati simbol perdamaian sebagai tanda dimulainya Sekolah Kebhinnekaan. (suaramerdeka.com / dok)

GUNUNGKIDUL, suaramerdeka.com - Anak muda dari berbagai agama mengikuti kegiatan Sekolah Kebhinnekaan Gunungkidul. Mereka berada di Pondok Retret Selogiri Komplek Gua Maria Tritis, Desa Giring, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, untuk belajar bergaul dan toleransi di tengah masyarakat yang majemuk.

Kegiatan Sekolah Kebhinnekaan Gunungkidul sudah berlangsung sejak 2017 untuk membekali ketrampilan bergaul dan mendidik anak muda merawat toleransi. Kepala Sekolah Kebhinnekaan Gunungkidul Angkatan III, H Lutfi Kharis Mahmud mengatakan perlu membangun pemahaman yang baik pada diri anak muda agar makin trampil merawat toleransi dan perdamaian lintas agama dan kepercayaan.

"Paling mendasar untuk bisa kami lakukan bersama tokoh lintas agama untuk para generasi muda yakni menanamkan agar tidak menduakan dasar negara. Pancasila harus mendarah daging pada diri kata dan perbuatan anak muda di tengah berbagai ancaman dan godaan," tandas Lutfi.

Kegiatan Sekolah Kebhinnekaan Gunungkidul menjadi khas kegiatan lintas agama dan dilaksanakan secara mandiri atas inisiatif lintas organisasi keagamaan. Setiap tahun GP Anshor NU, Klasis GKJ, Rayon Katolik Paroki Santo Petrus Kanisius, Majelis Budhayana Indonesia, Parisadha Hindu Darma Indonesia, Fatayat NU, Badan Kerja Sama Gereja Kristen, Jamaah Ahmadiyah Indonesia, Lembaga Dakwah Islam Indonesia yang ada di Kabupaten Gunungkidul mengirimkan peserta sekaligus tenaga fasilitator untuk pembelajaran di kelas dan lapangan.

Lutfi menjelaskan kegiatan sekolah informal anak muda lintas agama menjawab  kebutuhan anak muda supaya trampil, toleran dalam membangun persaudaraan lintas agama secara lahir batin yang selama ini cenderung bersifat teoritis.

Di sini mereka belajar berbagai pengalaman tentang toleransi, pemahaman yang benar menghadapi kemajemukan agama dan kepercayaan, hingga praktik langsung bergaul dengan lintas agama. Pola kegiatan Sekolah Kebhinnekaan mulai diadopsi beberapa kabupaten dan kota lain. "Peserta menginap di rumah-rumah ibadah secara bergiliran dari mulai gereja, pura, pondok pesantren dan vihara, untuk semakin memperkaya pengalaman hidup," imbuhnya.

Fasilitator Sekolah Kebhinnekaan, Albertus Wahyu Widayat, mengatakan ada beberapa materi pokok dan cukup mendasar yang harus dilalui para peserta utusan semua komunitas agama sampai dinyatakan lulus seperti teori identitas, pengelolaan media sosial sebagai alat kampanye keberagaman, pemahaman Pancasila dan konstitusi, perjumpaan dan dialog tokoh agama, dasar resolusi konflik, pengelolaan keberagaman dengan pendekatan hak asasi manusia beragama, membangun komunitas keberagaman dan berbagai pembelajaran memperkuat keberagaman Indonesia.


(Agung Priyo Wicaksono/CN26/SM Network)