• KANAL BERITA

Pedagang Kuliner Tempo Dulu Kenakan Lurik

foto: suaramerdeka
foto: suaramerdeka

SUKOHARJO, suaramerdeka.com – Pedagang pasar kuliner tempo dulu di kawasan situs bersejarah Gunung Kunci Kartasura, Minggu Pahing (25/8), mulai mengenakan seragam lurik.

Sebagian besar  pedagang juga mulai memakai nonplastik untuk membungkus barang dagangannya tapi memakai daun pisang. Tidak hanya itu semua alat masak harus pakai tungku, tiap-tiap makanan juga diberi nama jadi pengunjung tahu.

Gender pecel, tiwul dan gatot, masih tetap kuliner yang banyak diburu pengunjung. ‘’Sekarang sudah mulai ada perbaikan tidak seperti pas yang pertama. Pedagang seragam pakai lurik,’’ ujar salah satu pedagang, Agung Nugie.

Pedagang pasar tempo dulu ikut menguri-nguri budaya jawa. Bahkan pengunjung tidak hanya menikmati kuliner saja, tapi disuguhi pertunjukan kolosal zaman kerajaan dan musik keroncong. Kalau untuk transaksi jual beli masih memakai uang, ke depan kalau bisa uang benggol atau uang khusus.

‘’Sangat menarik dan pengunjung tetap ramai. Apalagi ini digelar tiap Minggu Pahing, jadi membuat pengunjung itu akan kangen dan menunggu-nunggu untuk menikmati kuliner-kuliner tempo dulu,� ungkap dia.

Sementara itu Penggagas Pasar Kuliner tempo dulu, Tri Wahyudi, mengatakan berkomitmen untuk menggelar pasar kuliner tempo dulu. Ini sebagai upaya agar kuliner tempo dulu itu tidak punah atau hilang dan masyarakat bisa menikmati terus.

‘’Sesuai komitmen awal pasar kuliner tempo dulu ini akan terus kami gelar. Ini untuk melestarikan dan mengenalkan kepada masyarakat khususnya anak-anak muda sekarang,’’ terangnya.

‘’Memang alat transaksi masih kami kaji dulu, bagaimana efektivitas dan efisien pakai benggol. Ke depan terus kami benahi dan ini tetap ada, jangan sampai kuliner tempo dulu tinggal nama tapi terus dilestarikan,’’ kata dia.

Selain seragam lurik, pedagang diminta untuk memakai pembungkus daun.’’Pedagang kompak dan ini sebagai bentuk kebersamaan. Kami optimistis dengan jalinan komunikasi intens mampu menyajikan destinasi wisata menarik, masyarakat akan semakin rindu dengan jajanan tempo dulu,’’ tandasnya.


(Ari Welianto/CN34/SM Network)