• KANAL BERITA

Potensi Pemasaran Kopi Terbuka Lebar

Dirut PTPN IX, Iryanto Hutagaol memaparkan tantangan bisnis kopi ketika menjadi pembicara Diskusi tentang Kopi Banaran Coffee Festival 2019 di Kampoeng Kopi Banaran, Bawen, Sabtu (24/8) malam.
Dirut PTPN IX, Iryanto Hutagaol memaparkan tantangan bisnis kopi ketika menjadi pembicara Diskusi tentang Kopi Banaran Coffee Festival 2019 di Kampoeng Kopi Banaran, Bawen, Sabtu (24/8) malam.

BAWEN, suaramerdeka.com - Potensi pemasaran lokal dari Provinsi Jawa Tengah cukup terbuka lebar untuk pasar nasional maupun internasional. Pernyataan tersebut disampaikan Dirut PTPN IX, Iryanto Hutagaol ketika menjadi pembicara Diskusi tentang Kopi Banaran Coffee Festival 2019 di Kampoeng Kopi Banaran, Bawen, Sabtu (24/8) malam.

Dalam kesempatan itu ia mengungkapkan, bila jumlah peminum kopi di Indonesia masih terbilang sedikit jika dibandingkan dengan para peminum kopi yang ada di negara-negara lain, apalagi di negara maju. Dimana konsumsi kopi nasional baru mencapai 1,3 kilogram per tahun per orang. Sedangkan di negara-negara maju, konsumsi kopi saat ini sudah mencapai 7 hingga 11 kilogram per kapita per tahun.

“Fakta tersebut menunjukkan peluang bisnis kopi masih cukup besar sekali untuk Indonesia,” ungkapnya.

Di sisi lain, hadirnya kopi dari luar negeri tentu menjadi tantangan tersendiri bagi bisnis kopi di Indonesia. Namun demikian, pihaknya optimistis hal itu bukanlah sebuah hambatan. Menyusul Iryanto Hutagaol menandaskan, kunci keberhasilan dalam situasi seperti ini adalah pada kreasi menjual dan memperkenalkan potensi kopi yang ada.

“Melalui festival ini, para pemain kopi domestik kami beri kesempatan untuk saling memperkenalkan. Berbincang terkait bagaimana cara mengolah kopi, serta mengajak para peminum kopi di tanah air untuk menikmati kopi dari Jawa Tengah, dan beberapa kopi lokal lainnya,” ujarnya.

Kegiatan untuk menyamakan pandangan itu, pun perlu dijadikan agenda rutin. Dengan begitu, dirinya yakin bakal muncul kompetisi yang baik, yakni kompetisi yang tidak saling menjatuhkan satu sama lain.

“Kami mencoba menjadi “lokomotif” agar pemain kopi, khususnya pedagang, pemilik kedai kopi, hingga petani bisa berjaya di negerinya sendiri,” tegasnya.

Diskusi yang dikemas santai tersebut, juga menghadirkan dosen UIN Walisongo Semarang, Sadiman Al Kundarto, produsen peralatan kopi Teddy, perwakilan petani kopi Mukidi, dan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Suryo Banendro.

Dalam paparannya, Suryo Banendro mengatakan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sangat mendukung upaya pengentasan kemiskinan para petani kopi. Salah satunya melalui pemberian bantuan bibit hingga alat produksi pascapanen untuk mengejar produksi. Termasuk dengan memfasilitasi kegiatan sertifikasi kopi dan memperkenalkan kopi dari Jawa Tengah ke pasar Rusia.

“Sudah ada Aplikasi Agro Jowo, pengembangannya didukung dengan generasi muda yang konsen di sektor perkebunan kopi,” katanya.


(Ranin Agung/CN34/SM Network)