• KANAL BERITA

Dosen Universitas Pancasila Raih Doktor Ilmu Hukum

Diuji Dua Mantan Ketua MK

DIDAMPINGI PENGUJI: Promovendus Ricca Anggraeni (empat dari kiri) dan keluarganya (lima dari kiri) saat berfoto bersama tim penguji ujian doktor Ilmu Hukum di Undip, Sabtu (24/8). (suaramerdeka.com/Royce Wijaya)
DIDAMPINGI PENGUJI: Promovendus Ricca Anggraeni (empat dari kiri) dan keluarganya (lima dari kiri) saat berfoto bersama tim penguji ujian doktor Ilmu Hukum di Undip, Sabtu (24/8). (suaramerdeka.com/Royce Wijaya)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Dosen Ilmu Perundang-Undangan dan Teori, Fakultas Hukum, Universitas Pancasila Jakarta Ricca Anggraeni SH MH berhasil meraih doktor pada Program Doktor Ilmu Hukum (PDIH) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Sabtu (24/8).

Ricca berhasil mempertahankan disertasinya dan dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan. Istimewanya, dua pengujinya mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), yakni Prof Dr Arief Hidayat SH MS (kini hakim anggota MK) serta Prof Dr Moh Mahfud MD SH.

Adapun, ketua tim pengujinya Dr Sukirno SH MSi, tak lain Ketua PDIH Undip. Ujian disertasi berjudul "Relasi Naskah Akademik dengan Kualitas Undang-Undang yang Dihasilkan oleh Tiga Rezim Peraturan Perundang-Undangan Melalui Cara Pembentukan Modifikasi" digelar di ruang ujian lantai 1 PDIH, Undip. Saat ujian, Ricca awalnya tampak tegang. Tangis pun pecah, begitu dosen berusia 34 tahun ini menyelesaikan ujian dengan baik.

"Hasil penilaian diperhitungkan kuliah tatap muka dan tahapan ujian disertasi, promovendus dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,86, menyelesaikan studi program doktor selama empat tahun dan 11 bulan," tandas Sukirno membaca hasil ujian.

Dalam disertasinya, Ricca mengulas tingginya data judicial review atau pengujian yudisial di MK, dari hasil rezim UU Nomor 12/ 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.

Kondisi demikian menunjukkan tidak ada relasi Naskah Akademik (NA) dengan kualitas UU yang dihasilkan. Menurut dia, ketika ada relasi, seharusnya tidak ada lagi norma yang tiba-tiba hadir tanpa alasan dan tujuan munculnya aturan di dalam NA. Namun, banyak norma-norma hukum secara empirik didalam UU dengan materi muatannya, tak dapat ditemukan di NA. Hal itu membuat norma hukum tak dapat diketahui argumentasi ilmiahnya didalam Rancangan Undang-Undang (RUU).  

Menurut dia, keadaan inilah yang membuat ramai mekanisme pengujian yudisial untuk menguji suatu UU. "Secara empirik terlihat, Naskah Akademik hanya sebagai pemenuhan syarat formalitas dalam pembentuk Undang-Undang," katanya.

Peneliti yakin, NA akan memiliki relasi terhadap kualitas UU. Di sisi lain, Arief Hidayat memberikan pidatonya usai ujian. Dia menilai Ricca awalnya menemui hambatan dan kebingungan, tapi saat ujian mengalami kemajuan luar biasa hingga meraih gelar doktor.


(Royce Wijaya/CN39/SM Network)