• KANAL BERITA

Fraksi Nasdem DPR RI Inventarisir Potensi Pengembangan Agri dan Maritim 4.0

Foto Istimewa
Foto Istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Fraksi Partai Nasdem dan DPP Partai Nasdem menyelenggarakan Fokus Group Discussion (FGD) dengan tema Agri dan Maritim 4.0 di Jakarta, Rabu (21/8). Dalam kesempatan tersebut Anggota Komisi IV Fadholi menyampaikan bahwa keberadaan infrastruktur pertanian yang baik merupakan syarat bagi adaptasi penggunaan teknologi pertanian yang saat ini tengah berkembang.

“Kita harus optimistis menyambut kemajuan teknologi yang dapat diterapkan pada bidang pertanian, namun infrastruktur dasarnya harus merata dengan baik dulu,” ungkapnya.

Dalam penuturannya lebih lanjut, Fadholi mengatakan petani belum merata dalam menerima teknologi dan pengetahuan. Misalnya, ketika panen jagung tiba, tetapi bersamaan dengan musim penghujan. Kondisi ini biasanya membuat panen tidak bisa dilakukan, karena biaya angkutnya terlalu mahal dibanding pendapatannya.

“Banyak petani yang akhirnya memanen jagung ketika sudah masuk musim kemarau,” jelasnya.

Masalah berikutnya, terkait dengan sumber air.  Di mana air untuk minum saja di daerah tertentu sangat sulit, terutama di daerah tadah hujan. Saat ini yang diterapkan sebagian berupa alat tanam, juga beberapa alat pendukung teknologi meskipun baru sebagian kecil saja yang digunakan.

“Ini terjadi pada petani non korporasi terutama, terkecuali petani binaan korporasi seperti Sinarmas dan Djarum.  Kita perlu solusi riil untuk menyelesaikan masalah ini,” tegas Fadholi.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Nasdem bidang Pertanian dan Maritim Emmy Hafild mengatakan Indonesia merupakan negara agraris dan maritim.

Dua bidang ini harus menjadi fokus menghadapi industri 4.0. Untuk itu, lanjut Emmy, Partai NasDem memiliki komitmen mengembangkan bidang pertanian dan maritim dalam menghadapi era industri 4.0.

"Jangan sampai masuk ke industri 4.0 nanti agrikultur dan maritim ini terlupakan," tegas Emmy.

Emmy menilai pembahasan harus merambah ke ranah kehidupan bangsa agar semakin baik setiap harinya.

"Kita sudah terlalu lama membahas politik, kekuasaan, pemilu, dan sebagainya. Kini saatnya partai itu memikirkan kehidupan bangsa dan negara," ujarnya.
Nasdem, menurut Emmy, memandang penting kemajuan bidang pertanian dan maritim selain untuk kedaulatan dan ketahanan pangan ini juga merupakan kekuatan sebenarnya bangsa Indonesia.

FGD yang diselenggarakan Fraksi Nasdem dan DPP ini juga menghadirkan para pakar dari berbagai bidang, meliputi Guru Besar Fak. Ekonomi UI Rhenald Kasali yang berbicara mengenai perkembangan teknologi dan manajemen pertanian ketika mengadopsi teknologi.

“Masalah pertanian tidak dapat dipisahkan dari berbagai masalah dari bidang lainnya.  Alibaba adalah platform yang mempertemukan supply dengan demand. Begutu juga dengan Gojek.  Yang dimobilisasi dan diorkestrasi dengan baik sehingga dapat memenuhi permintaan masyarakat,” kata dia mengawali paparannya.

Menurut Rhenald, masalah di bidang Pertanian rumit karena tidak ada pemuda-pemuda yang mau kerja di desa.  Apalagi jika dihubungkan dengan sumberdaya listrik untuk pengembangan teknologi dan in app pertanian.

“Sensing untuk membaca karakter orang dengan menggunakan Artificial Intelligence, yang bisa diterapkan di bidang Pertanian. Misal untuk mendeteksi karakteristik tanah, air seperti misalnya teknologi dari Israel, yang diterapkan di Sumba Timur. Dimana disana merupakan lahan tipe karang bertanah, untuk tanaman tebu, dan tebunya morfologi kurus-kurus.  Di peternakan, sapi yang temperaturnya naik bisa dipisahkan.  Di tengah kota juga bisa digunakan untuk verticulture,” jelasnya.

Rhenald memberikan titik tekan pada kemungkinan dunia pertanian mampu menyerap teknologi, namun beriringan dengan itu biaya teknologi yang mahal ini tidak mungkin dibeli oleh petani. Menurutnya, perlu sebuah rintisan penggunaan teknologi pertanian secara riil, sehingga benar-benar teruji teknologi itu dapat meningkatkan pertanian Indonesia.

Hadir sebagai narasumber juga, Rektor IPB Arif Satria, yang memberikan paparan mengenai beragamnya budaya bertani di Indonesia. Jika kita kembali pada teknologi orang dulu, masyarakat pertanian sudah memiliki sistem terintegrasi dalam bertani. Misalnya, kearifan lokal di Lombok yang mengenal sistem mangku, meliputi mangku alas–mangku bumi–mangku laut.

“Kearifan itu sebenarnya sudah mengandung sistem labour intensive and cultural heritage–conventional extension–corporation and entrepreneurship serta agripreneur dan self learning.  Semua tahapan ini ada di Indonesia, di satu masa-satu tempat, sehingga di Indonesia lebih complicated karena tidak seragam,” bebernya.

Arif mengemukakan, teknologi yang mengarahkan pada skema kerja yang tersistematis itu sangat baik, karena dengan kondisi yang relatif individualis, kemudian dipersatukan dengan sistem kerja teknologi bersama.

“Teknologi yang parsial dapat dimanfaatkan dalam pertanian sebenarnya sudah dikembangkan oleh IPB. Misalnya, deteksi penyakit dengan scan foto melalui smartphone, meskipun belum dapat dikembangkan lebih lanjut,” jelasnya.

Para pemapar yang hadir dalam acara ini juga meliputi Guru Besar Unila Bustanul Arifin; ahli teknologi Artificial Intelligent Binus Widodo Budiharto; CEO HARA TOKEN Imron Zuhri; CEO 8Villages.com Sanny Gaddafi; dan CEO MusHome Widya Putra.

FGD yang diselenggarakan ini menjadi bagian rangkaian kegiatan menjelang Kongres ke-2 NasDem, pada November 2019 mendatang. Hasil FGD akan dirangkum menjadi rekomendasi untuk disampaikan kepada Presiden Joko Widodo dalam kongres. 


(Red/CN19/SM Network)