• KANAL BERITA

Menyekolahkan Dokter, Cara RSUD Rembang Atasi Kelangkaan Spesialis

TINGKATKAN LAYANAN : RSUD dr R Soetrasno Rembang terus berupaya meningkatkan pelayanan kepada pasien, salah satunya dengan membuka klinik khusus pasien lanjut usia. (suaramerdeka.com/Ilyas al-Musthofa)
TINGKATKAN LAYANAN : RSUD dr R Soetrasno Rembang terus berupaya meningkatkan pelayanan kepada pasien, salah satunya dengan membuka klinik khusus pasien lanjut usia. (suaramerdeka.com/Ilyas al-Musthofa)

REMBANG, suaramerdeka.com – RSUD dr R Soetrasno Rembang memiliki cara khusus untuk mengatasi kelangkaan dokter spesialis di beberapa bidang. RSUD mengirimkan dokter untuk menempuh pendidikan spesialis dengan model memberikan subsidi.

Dokter yang dikirimkan belajar lagi itu menempuh pendidikan spesialis yang di RSUD dr R Soetrasno belum ada. Sejauh ini, ada 4 dokter yang sedang menjalani pendidikan lanjutan dengan mengambil spesialis jantung, bedah syaraf dan bedah urologi.

Mereka diberikan rekomendasi dan subsidi dari RSUD dr R Seotrasno dengan ketentuan mengamalkan pengetahuannya nanti di Rembang. Sehingga, keberadaan mereka bisa membantu mengatasi kelangkaan sejumlah dokter spesialis di RSUD dr R Seotrasno. Bahkan, tahun ini ada dokter yang selesai menempuh pendidikan spesialis dan kembali bertugas di Rembang.

Direktur RSUD dr R Soetrasno Rembang, Agus Setiyohadi menyatakan, secara regulasi sejatinya jumlah dokter spesialis di instansinya sudah cukup. Hal itu jika menakar pada status RSUD yang masih bertipe C.

Menurut Agus, saat ini secara total RSUD dr R Soetrasno memiliki 30 dokter spesialis. Sampai sekarang dokter spesialis yang belum dimiliki adalah spesialis jantung, bedah syaraf dan bedah urologi.

Pihaknya sudah beberapa kali mengusulkan pengisian tersebut melalui mekanisme tes CASN. Namun, dalam beberapa kali penyelenggaraan ternyata tidak ada pendaftar yang mengisi formasi tersebut.

“Tahun ini, kami kembali mengusulkan kepada Badan Kepegawaian Daerah (BKD) formasi dokter spesialis jantung untuk CASN 2019. Semoga saja, ada pendaftar yang memilih formasi itu. Selama ini formasi itu tidak ada peminatnya, karena memang langka secara SDM,” papar dia.

Berdasarakan data dari Seksi Pengembangan RSUD dr R Soetrasno, dokter spesialis terbanyak yang bertugas adalah spesialis anak dan obsgyne dengan masing-masing 4 orang. Disusul dokter spesialis bedah, penyakit dalam, dan anestisialogi yang masing-masing 3 orang.

Sedangkan keberadaan dokter spesialis paling sedikit di antaranya adalah radiologi, patologi klinik, THT, kulit dan kelamin, jiwa, ortopedi, mikrobiologi klinik dan konservasi gigi, yang jumlah masing-masing hanya 1 orang.


(Ilyas al-Musthofa/CN39/SM Network)