• KANAL BERITA

Safety Belt, Cegah Risiko Kecelakaan Kerja bagi Penderes

Penderes gula kelapa di Desa Pageraji mempraktikan menggunakan alat pengaman guna menekan risiko kecelakaan kerja. foto: suaramerdeka
Penderes gula kelapa di Desa Pageraji mempraktikan menggunakan alat pengaman guna menekan risiko kecelakaan kerja. foto: suaramerdeka

BANYUMAS, suaramerdeka.com - Kelompok Tani Cikal Mas Desa Pageraji, Kecamatan Cilongok mulai mengaplikasikan alat pengaman bagi penderes (safety belt penderes  BOC X3). Alat ini untuk menjawab permasalahan tingginya risiko kecelakaan kerja bagi penderes.

Ketua Kelompok Tani Cikal Mas, Arbi Anugrah mengatakan, selama ini para penderes gula kelapa di Banyumas tidak pernah menggunakan alat pengaman saat menderes nira. Padahal, risiko kecelakaan kerja tinggi.  

"Ini yang melatarbelakangi karena banyaknya penderes di Banyumas jatuh akibat tidak adanya alat pengaman bagi diri mereka.

Mereka itu bekerja dengan risiko tinggi dengan nyawa taruhannya. Apalagi ketika musim hujan pohon kelapa jadi licin," ujarnya, Jumat (23/8).

Dia menjelaskan, alat ini bekerja seperti sabuk pengaman pada mobil. Ketika penderes mengalami kecelakaan atau terjatuh, ia secara otomatis akan langsung mengikat, sehingga penderes tidak akan langsung terjatuh ke tanah namun menggantung.

"Alat itu sebenarnya biasa digunakan oleh atlet panjat dinding. Kami dan inovator alat ini mengadopsi dari alat tersebut hingga terciptanya alat keselamatan ini bagi penderes," katanya.

Para penderes, kata dia, tidak butuh alat panjat karena mereka sudah pintar memanjat pohon kelapa. Yang mereka butuhkan adalah alat keamanan saat naik, karena risiko terbesar penderes saat perpindahan antara batang pohon ke pelepah.

"Saat ini alat pengaman bagi penderes sudah dalam proses HAKI dan SNI," katanya.

Alat pengaman bagi penderes mulai dikenalkan sekitar Maret 2019. Respons mereka sangat baik, khususnya mengurangi risiko terjatuh dari pohon kelapa saat kelelahan. Saat ini yang dalam masa uji coba hasil dari penderes pilihan bupati ada sepuluh orang.

"Alat ini juga sudah diproduksi 50 alat bantuan dari Bank Indonesia Purwokerto," kata Arbi.


(Puji Purwanto/CN34/SM Network)