• KANAL BERITA

BPPT Optimistis Teknologi Modifikasi Cuaca pada Musim Kemarau Masih Dapat Dilaksanakan

Foto: istimewa
Foto: istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Pada musim kemarau masih terdapat potensi awan untuk dilaksanakan hujan buatan.  Untuk mengejar waktu penyemaian awal diusulkan dibangun  beberapa posko di beberapa titik strategis.

“Pada musim kemarau umumnya masih ada awan meskipun tidak setiap haridan  merata di seluruh Indonesia. Namun bagi kami, kondisi tersebut tetap merupakan peluang untuk operasi TMC (teknologi modifikasi cuaca-red) agar dapat turunkan hujan untuk mengatasi masalah karhutla maupun kekeringan yang saat ini terjadi,” tegas Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Tri Handoko Seto di Jakarta.

Tri Handoko Seto menjelaskan ketika musim kemarau, awan biasanya tumbuh secara sporadis, baik temporal maupun per lokasi. Untuk itu, lanjut dia, perlu disiagakan beberapa posko di titik-titik strategis untuk percepatan penyemaian awan. “Dengan memperhatikan sifat pertumbuhan awan di musim kemarau saat ini,  maka TMC harus disiagakan di beberapa titik dengan dukungan armada pesawat berdaya jangkau luas,”ujarnya.

Awan, lanjut Seto, biasanyatumbuh akibat gangguan atmosfir berupa gelombang atmosfir, seperti fenomena MJO (Madden-Julian Oscillation), Kelvin wave, dan lain-lain. “ Jadi kurang tepat kita bicara bulan sekian sampai bulan sekian tidak ada awan, dan baru akan ada awan setalah bulan Oktober. Karena definisi musim kemarau menurut BMKG bukan berarti tidak adahujan melainkan curah hujan di bawah 150 mm dalam sebulan,” tegasnya.

Tri Handoko Seto mencontohkan, penanganan di karhutla di Riau yang masih berjalan hingga saat ini. BBTMC BPPT membangun satu posko di Pekanbaru dengan dilengkapi pesawat CASA 212 yangmemiliki daya jangkau hanya wilayah-wilayah di Provinsi Riau saja. “Memasukiminggu kedua Agustus pertumbuhan awan di Riau cukup baik,” ujarnya. Datalaporan TMC di Riau pada 13 hingga 16 Agustus 2019, mampu menjatuhkan air hujan hingga capai 47,7 juta M3.

Sementara itu, untuk penanggulangan karhutla (kebakaran hutan dan lahan), kata Seto, perlu disiapkan satu posko di Sumatera dan  satu posko di Kalimantan. Untuk penanggulangan kekeringan, lanjut dia, perlu disiagakan satu posko utama di Halim Perdanakusuma dan posko tambahan di Jawa Timur serta Nusa Tenggara.

Sedangkan, armada pesawat untuk keperluan TMC selama musim kemarauini, lanjut dia, diperlukan sekelas CN-295 yang memiliki daya jangkau luas. “Pesawat sejenis ini akan sangatpenting untuk bisa sewaktu-waktu memburu awan yang tumbuh,” ujarnya.


(Andika Primasiwi/CN26/SM Network)