• KANAL BERITA

Perajin Mebel Diminta Rebut Pasar Lokal

PENJELASAN: PENJELASAN : Sekjen DPP Himki Abdul Sobur, Ketua DPD Himki Soloraya Budi Dharma Santosa, dan Kepala KPw Bank Indonesia Solo Bambang Pramono memberi penjelasan pada sejumlah wartawan usai menjadi pembicara seminar Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia di Solo. (suaramerdeka.com / Langgeng Widodo)
PENJELASAN: PENJELASAN : Sekjen DPP Himki Abdul Sobur, Ketua DPD Himki Soloraya Budi Dharma Santosa, dan Kepala KPw Bank Indonesia Solo Bambang Pramono memberi penjelasan pada sejumlah wartawan usai menjadi pembicara seminar Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia di Solo. (suaramerdeka.com / Langgeng Widodo)

SOLO, suaramerdeka.com - Pengusaha dan perajin mebel domestik didorong untuk "merebut" kembali pasar lokal yang perlahan-lahan mulai dikuasai produk impor, khususnya dari Tiongkok.

Dorongan itu disampaikan Sekjen DPP Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Kayu (Himki) Abdul Sobur, Ketua DPD Himki Soloraya Adi Dharma Santosa, dan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo Bambang Pramono, ketika menjadi pembicara seminar nasional Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia di Solo, Kamis (22/8).

Seminar itu sekaligus roadshow, terkait rencana pameran komponen furnitur dan permesinan kayu yang akan digelar di Jakarta. Pameran bertema "Membawa Industri dan Kerajinan Indonesia ke Standart Global" itu akan digelar selama empat hari, yakni 9-12 Oktober tahun ini. Menurut mereka, penguasaan mebel di pasar lokal dinilai tidak kalah penting, selain memburu pasar ekspor yang belakangan cenderung stagnan lantaran berbagai faktor dan hambatan.

Seperti perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS), belum sepenuhnya pulih krisis ekonomi global, serta lemahnya promosi internasional dan negosiasi bilateral antarnegara di bidang ekonomi. "Dalam lima, enam tahun belakangan ini, 45 persen mebel kita milai dikuasai asing," kata Sobur.

Mereka optimistis bisa melakukan itu, asal beberapa hal dipenuhi. Sobur mengatakan, banyak hal yang harus dilakukan untuk menguasai pasar mebel lokal dan ekspansi perluasan ekspor ke berbagai negara. Selain penetrasi pasar yang kuat, produk mebel yang ditawarkan juga harus kompetitif. Menurut Sobur, produk kompetitif itu antara lain harganya tidak mahal, berkualitas, serta desainya menarik.

"Agar produk mebel kompetitif dan biaya produksi murah, maka upah buruh jangan terlalu tinggi, bahan baku murah dan mudah didapat, serta mesin produksi yang digunakan juga harus canggih dan tidak ketinggalkan zaman," kata Sobur.

Kendati upah buruh di beberapa kabupaten/kota di sentra mebel dinilai masih cukup murah, namun belum banyak pengrajin menggunakan mesin modern dan canggih. Ketua DPD Himki Soloraya Adi Dharma Santosa berkata, dari 100 perajin mebel anggota di Soloraya, yang peralatannya sudah modern masih kurang dari 10 perajin.

Sebenarnya, kata dia, pemerintah pusat sudah menerbitkan kebijakan fiskal untuk membantu memberi subsidi pembelian peralatan itu agar lebih terjangkau. Sayang, kebijakan itu masih kurang sosialisasi dan persyaratan dan birokrasinya masih ribet. Kendala lain, di tingkat global, pemerintah sering kali gagal dalam bernegosiasi.


(Langgeng Widodo/CN26/SM Network)