• KANAL BERITA

Penting Memutus Mata Rantai Thalassemia

PENGURUS BARU: Pendiri Yayasan Thalassaemia Indonesia (YTI), Ruswandi menyerahkan pataka pada Ketua DIY yang baru saja terpilih, Yanti Kusmono.(Foto suaramerdeka.com/Agung PW)
PENGURUS BARU: Pendiri Yayasan Thalassaemia Indonesia (YTI), Ruswandi menyerahkan pataka pada Ketua DIY yang baru saja terpilih, Yanti Kusmono.(Foto suaramerdeka.com/Agung PW)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Penyakit generatif akibat kelainan gen dalam darah, thalassaemia, dari tahun ke tahun memperlihatkan peningkatan. Karena itu perlu memutus mata rantai penyakit tersebut dengan melakukan pemeriksaan sebelum pembawa bakat thalassemia menikah.

Ketua Umum Yayasan Thalassaemia Indonesia (YTI), Andry Abdullah mengungkapkan usai terpilih menjadi nahkoda yayasan di Kaliurang, Sleman, kemarin. Ia langsung menggagas program memperkuat pemeriksaan dan sosialisasi mengenai thalasemia di berbagai daerah terutama di Jawa Barat, Jawa Tengah dan daerah sekitarnya.

''Penderita thalassaemia lebih 10.000 orang dan 40 persennya di Jawa Barat, kemudian 15 persen DKI Jakarta,  sisanya di berbagai daerah. Ada tren grafiknya meningkat sehingga perlu memutus mata rantai penyakit keturunan yang tidak menular ini,'' tandas Andry.

Ia mengatakan sosialisasi menjadi faktor penting karena di daerah-daerah belum banyak yang mengetahui penyakit tersebut. Di jajaran pembawa bakat thalasemia ring satu masih ada yang menikah dengan sesama penderita sehingga memperpanjang mata rantai thalassaemia. Idealnya, pembawa gen thalassaemia tidak menikah dengan pembawa gen juga.

Biaya Besar

Selain fokus pada memutus mata rantai penyebaran penyakit, Andry juga mengungkapkan keinginannya supaya pemerintah memberi layanan penuh pada penderita. Pasalnya, selama ini masih ada penderita yang belum mendapatkan haknya secara penuh karena persoalan teknis misalnya ketersediaan obat.

''Contohnya, pasien harusnya mendapat obat 100 persen tapi ternyata hanya tersedia 50 persen dan 50 persennya lagi belum tentu bisa diperoleh tepat waktu. Ini sangat merugikan pasien karena pengobatan thalassaemia tidak bisa putus, kalau putus harus dari awal lagi,'' papar Andry.

Ketua YTI DIY, Sri Haryanti menambahkan penderita thalassaemia di daerahnyaada 150 orang. Semua telah mendapat fasilitas dari BPJS sehingga biaya pengobatan setiap bulan sebesar Rp 10-13 juta per orang sekarang gratis. Penderita yang harus transfusi darah secara rutin dan minum obat tertentu ini bisa memperoleh pelayanan di rumah sakit di DIY.
''Sudah banyak
 rumah sakit yang bisa melayani transfusi darah penderita thalassaemia. Kami berharap penderita berobat tidak hanya di rumah sakit pusat seperti RS Sardjito tapi juga ke rumah sakit lainnya sehingga pelayanan lebih cepat dan merata,'' imbuhnya.


(Agung Priyo Wicaksono/CN19/SM Network)