• KANAL BERITA

Sertifikat Indikasi Geografis Kopi Robusta Temanggung Diminta Dipertahankan

PANEN PERDANA : Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah Suryo Banendro dan Wakil Bupati Temanggung Heri Ibnu Wibowo melakukan panen perdana kopi di Desa Muncar, Kecamatan Gemawang. (suaramerdeka.com / M Abdul Rohman)
PANEN PERDANA : Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah Suryo Banendro dan Wakil Bupati Temanggung Heri Ibnu Wibowo melakukan panen perdana kopi di Desa Muncar, Kecamatan Gemawang. (suaramerdeka.com / M Abdul Rohman)

TEMANGGUNG, suaramerdeka.com - Wakil Bupati Temanggung Heri Ibnu Wibowo mengajak para petani kopi di kota tembakau ini untuk pertahankan sertifikat indikasi geografis kopi robusta asal Temanggung. "Saat ini sudah ada 11 kopi di Indonesia yang mempunyai indikasi geografis, termasuk salah satunya kopi robusta Temanggung. Jadi ini harus dipertahankan," ungkapnya saat Festival Syukuran Panen Kopi Bhumi Phala di Desa Muncar, Kecamatan Gemawang.

Pihaknya berharap kegiatan itu menjadi momentum bagi masyarakat Desa Muncar untuk mengembangkan desa ini dari tanaman kopi, yang ditanam dengan baik, dirawat, dan menghasilkan kopi berkualitas. Untuk menghasilkan kopi berkualitas baik, jangan lagi petik kopi hijau, tetapi benar-benar menunggu sampai kopi itu merah baru dipanen kemudian diproses sehingga  kualitas kopi menjadi baik.

Dia juga berharap nantinya tanaman-tanaman lainnya bisa dikembangkan, termasuk vanili dan jagung. Kemudian juga kulinernya untuk membesarkan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang ada sekaligus mempromosikannya, sehingga dapat menyejahterakan petani dan masyarakat Temanggung. "Ini merupakan potensi yang harus terus ditingkatkan," harapnya.

Senada, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah Suryo Banendro menyebutkan, peluang pengembangan industri pengolahan kopi di dalam negari masih cukup besar, karena potensi konsumsi kopi besar dan permintaan kopi dunia terus menanjak. "Pertumbuhan kelas menengah dan pengembangan gaya hidup masyarakat Indonesia, terus mendorong pengembangan produk kopi olahan di dalam negeri meningkat rata-rata tujuh persen per tahun," ujarnya.

Dikatakan, Indonesia menjadi negara penghasil kopi terbesar ketiga di dunia setelah Brasil dan Vietnam, dengan produksi rata-rata 685.000 ton per tahun atau 8,9 persen dari produksi kopi dunia. Untuk meningkatkan nilai tambah, maka industri olahan baik industri besar, menengah, maupun kecil mesti dipacu dan didukung oleh pemerintah dan masyarakat. Saat ini sudah ada 11 kopi di Indonesia yang mempunyai indikasi geografis termasuk kopi robusta Temanggung.

Saat ini hampir semua kabupaten atau kota memiliki usaha budi daya dan kopi olahan seperti Pemalang, Batang, Pati, Kudus, termasuk Temanggung. Dia berharap ke depan kopi Muncar Temanggung juga bisa mendunia. Kebiasaan minum kopi sudah menjadi gaya hidup, bukan hanya orang tua, tetapi juga anak-anak muda yang nongkrong sambil minum kopi. Oleh karena itu, diharapkan eksistensi pengolahan kopi yang ada di masyarakat untuk terus dijaga kualitasnya.


(M Abdul Rohman/CN26/SM Network)