• KANAL BERITA

Cara Pandang Penelitian Buat Publikasi Harus Diubah

SEMINAR NASIONAL: Rektor UPGRIS Muhdi (paling kiri) bersama narasumber seminar nasional di gedung pusat UPGRIS. (suaramerdeka.com / Royce Wijaya)
SEMINAR NASIONAL: Rektor UPGRIS Muhdi (paling kiri) bersama narasumber seminar nasional di gedung pusat UPGRIS. (suaramerdeka.com / Royce Wijaya)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Hasil penelitian para peneliti harus diarahkan sampai ke industri. Tidak sekadar meneliti, namun peneliti perlu memperhatikan hasil penelitiannya itu apa bisa dipatenkan, dijual, serta dapat diminati masyarakat. Karenanya, cara pandang penelitian untuk publikasi harus diubah. Penelitian harus membangun, produknya dapat dipakai kalangan industri. Hal itu sesuai tujuan pembangunan nasional, di mana Indonesia menuju ke negara berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Dimulai dari para peneliti, negara menggiring mereka tak hanya meneliti, tapi hasil penelitian dapat dimanfaatkan industri. Mindset penelitian untuk publikasi harus diubah," kata peneliti bidang pelayanan ketahanan pangan dari UGM Yogyakarta Prof Dr Endang S Rahayu MS, narasumber Seminar Nasional dan Enterprenership di gedung pusat Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Rabu (21/8).

Seminar digelar program studi (prodi) Pendidikan Biologi, Fakultas Pendidikan Matematika Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi Informasi, UPGRIS. Kegiatan yang dibuka Rektor UPGRIS Dr Muhdi MHum, juga menghadirkan narasumber Prof Dr Phil Ari Widodo MEd dari UPI Bandung dan Dr Fenny Roshayanti MPd dari UPGRIS.

Meski demikian, peneliti tidak bisa dibiarkan kerja sendirian. Misalnya, penelitian mobil listrik, pemerintah harus membantu supaya industri mau mengadopsinya. Banyak peneliti yang belum berjiwa enterpreneur, mereka meneliti hanya sebagai syarat kenaikan pangkat.

Sementara itu, Ari Widodo mengatakan, para guru harus mampu mengajarkan tiga hal besar, yakni keterampilan dasar, digital, dan prinsip pembangunan berkelanjutan. Keterampilan dasar seperti berpikir kritis, kreatif, kerja sama, dan kolaboratif.

Selain itu, anak-anak harus disiapkan sejak awal menghadapi perkembangan teknologi, karena era ke depan semakin digital. Pembangunan saat ini juga mesti peduli pada masa mendatang. "Kalau ketiga hal berjalan, pembangunan tidak akan mengabaikan lingkungan. Anak-anak pun bertahan hidup," katanya.

Di sisi lain, Muhdi mengatakan, seminar ini rutin diselenggarakan prodi Pendidikan Biologi. Pesertanya guru, dosen, dan praktisi dari Jawa dan luar Jawa seperti Bengkulu.


(Royce Wijaya/CN26/SM Network)