• KANAL BERITA

Industri Tekstil Bidik Celah Perang Dagang Amerika Serikat-Tiongkok

Beralih ke Kapas Amerika

SEMINAR: Dr. Anh Dung (Andy) Do selaku perwakilan Cotton Council International (CCI) di Indonesia (berdiri kiri) menjadi moderator dalam seminar Cotton USA dalam Kain dan Pakaian Batik di Hyatt Regency Yogyakarta. (suaramerdeka.com / Gading Persada)
SEMINAR: Dr. Anh Dung (Andy) Do selaku perwakilan Cotton Council International (CCI) di Indonesia (berdiri kiri) menjadi moderator dalam seminar Cotton USA dalam Kain dan Pakaian Batik di Hyatt Regency Yogyakarta. (suaramerdeka.com / Gading Persada)

SLEMAN, suaramerdeka.com - Trade war (perang dagang) yang Amerika Serikat dan Tiongkok harus disikapi bijaksana, terutama pelaku industri di Tanah Air. Khususnya industri pertekstilan Indonesia dimana membidik celah dari perang dagang yang terjadi antara dua negara adikuasa tersebut. 

"Sejak setahun terakhir, sejak ada trade war, kami berusaha Indonesia bisa berperan dan bisa mengambil sebuah celah ditrade war itu," tutur Liliek Setiawan, perwakilan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) sebelum mengisi seminar Cotton USA dalam Kain dan Pakaian Batik di Hyatt Regency Yogyakarta, Rabu (20/8).

Dalam perang dagang tersebut, kata Liliek, Amerika Serikat membatasi pembelian barang dari Tiongkok. Namun, sebaliknya Tiongkok juga membalas membeli barang-barang dari Amerika Serikat. Padahal, Tiongkok tercatat sebagai eksportir kain terbesar di dunia. Namun, sejak adanya perang dagang ini, pemerintah Negeri Tirai Bambu itu mengalihkan pembelian katun ke negara lain seperti Australia dan Bangladesh.

"Kami berharap akses supply bisa diraih dengan cara elegan. Bagaimana caranya kami menciptakan win win environment. Kami mendapatkan janji beli retailer terkemuka di Amerika, dalam bentuk barang jadi, yang sudah memiliki nilai tambah. Seperti Cotton USA ini tak hanya sekedar merek dagang, tapi juga yayasan yang dibentuk pemerintah Amerika Serikat untuk mendorong ekspor katun ke seluruh Indonesia," papar dia.

Lantas bagaimana kondisi pertekstilan di Tanah Air, khususnya Jateng-DIY. Meski kedua wilayah ini berkaitan, lanjut Liliek, namun Jateng dan DIY memiliki karakteristik masing-masing.

"DIY kuat di downstream, retail desain karya banyak di DIY ketimbang daerah lain, termasuk di Jateng. Namun Jateng lebih kuat di industri atau manufakturnya. Tapi paling utama industri garmen tidak bisa lepas dari SDM. Sebesar dan secanggih apapun, kalau ada penyerapan tenaga kerja multiplier effect bisa mengurangi beban pemerintah. Misi kegiatan seminar ini lebih ke arah situ," papar dia.

Sementara itu Dr. Anh Dung (Andy) Do selaku perwakilan Cotton Council International (CCI) di Indonesia menambahkan, berdasar data  Kementerian Perindustrian menilai industri batik sebagai industri yang memiliki peran penting bagi perekonomian Indonesia karena kontribusinya pada devisa negara. Nyatanya,2018, industri Batik telah berkontribusi sebesar 52,44 juta dollar Amerika Serikat terhadap devisa negara melalui ekspor.


(Gading Persada /CN26/SM Network)