• KANAL BERITA

Pola Perjalanan Wisata Harus Jelas

KEMBANGKAN POTENSI: Divisi Komunikasi Publik Badan Otorita Borobudur (BOB) Yusuf Hartanto (kiri) dan Direktur Industri Pariwisata dan Kelembagaan Kepariwisataan BOB Bisma Jatmika saat menyampaikan perlunya memaksimalkan potensi di Jateng dan DIY. (suaramerdeka.com / dok)
KEMBANGKAN POTENSI: Divisi Komunikasi Publik Badan Otorita Borobudur (BOB) Yusuf Hartanto (kiri) dan Direktur Industri Pariwisata dan Kelembagaan Kepariwisataan BOB Bisma Jatmika saat menyampaikan perlunya memaksimalkan potensi di Jateng dan DIY. (suaramerdeka.com / dok)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Wilayah DIY dan Jawa Tengah memiliki potensi pariwisata luar biasa. Karena itu Badan Otorita Borobudur (BOB) menilai sangat penting untuk memiliki pola perjalanan yang pasti dan sudah menjadi produk.

Direktur Industri Pariwisata dan Kelembagaan Kepariwisataan BOB, Bisma Jatmika mengungkapkan portofolio pariwisata di DIY dan Jateng perlu diperbaiki. Ia menilai perlunya pola perjalanan wisata yang jelas. "Perlu pola perjalanan yang sudah jadi produk, bukan sekadar di sini ada atraksi alam dan budaya namun harus jadi produk yang dijual ke wisatawan sehingga menjadi satu hal yang bisa dinikmati semua orang," tandasnya.

Melihat pentingnya hal tersebut, ia menegaskan pihaknya gencar berkoordinasi dengan banyak pemangku kepentingan. Ia ingin mengupayakan pola perjalanan wisata yang siap untuk dinikmati wisatawan sehingga ketika mereka tiba sudah bisa langsung mengetahui ke mana harus melewati hari-hari liburannya.

Bisma mencontohkan destinasi kelas dunia telah memiliki pola perjalanan wisata yang telah menjadi produk. Bahkan, wisatawan memiliki banyak pilihan pola perjalanan sesuai jangka waktu yang mereka inginkan mulai dari enam jam, lima hari, hingga 20 hari. "Sebenarnya potensi untuk ke arah sana sangat luar biasa terutama di Jateng dan DIY tetapi belum maksimal," tegasnya.

Divisi Komunikasi Publik Badan Otorita Borobudur (BOB) Yusuf Hartanto menambahkan, lembaganya bersama dengan pelaku pariwisata, industri pariwisata dan hotel perlu
menangkap peluang tersebut dan mempertimbangkannya sehingga bisa memberikan alternatif wisata.

Di DIY-Jateng lama tinggal wisatawan asing 1,5 hari sampai dua hari. Ia percaya jumlah wisatawan datang dengan length of stay panjang akan berdampak ke ekonomi lebih tinggi. Mereka akan lebih sering membelanjakan uangnya. Kedua daerah tersebut harus fokus pada wisatawan manca negara karena merekalah sumber devisa  yang bisa menyeimbangkan kondisi makro terhadap neraca perdagangan. Hal itu juga bisa  memperbaiki situasi rupiah terhadap dolar.


(Agung Priyo Wicaksono/CN26/SM Network)