• KANAL BERITA

Tekun Melukis Agar Tak Dilupakan Sejarah

TUNJUKAN LUKISAN: Pujowati ASN Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jateng menunjukan hasil karya lukisan "Jangan Pernah Melupakan Sejarah" di Halaman Balaikota Semarang, kemarin. (suaramerdeka.com/Pamungkas Suci Ashadi)
TUNJUKAN LUKISAN: Pujowati ASN Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jateng menunjukan hasil karya lukisan "Jangan Pernah Melupakan Sejarah" di Halaman Balaikota Semarang, kemarin. (suaramerdeka.com/Pamungkas Suci Ashadi)

suaramerdeka.com - Sejarah yang menciptakan adalah diri kita sendiri. Manusia akan dikenang sejarah jika menghasilkan banyak karya. Kalimat itulah yang menjadi motivasi Pujowati agar tidak dilupakan sejarah. Maka dalam kesibukanya bekerja di ASN Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jateng, ia menyempatkan waktu untuk melukis. Hobinya mulai terasah saat tergabung dalam Paguyuban Seniman Banyumanik (Paseban) 14.

Saat ini Pujowati sudah menghasilkan karya 70 lukisan. Bersama Paseban 14 menggelar pameran lukisan untuk memperingati hari kemerdekaan RI ke-74, di Halaman Balaikota Semarang. Dalam pameran itu, ia mengunggulkan karya lukis bertemakan "Jangan Pernah Melupakan Sejarah".

Adapun karya pameran lukisan seniman lain yaitu ada lukisan Patung Seorang Pemahat karya pelukis Trisno Yuwono, lukisan Betis Sang Putri yang Bersejarah karya pelukis Timotius Hariyo Winarto, lukisan Bapak Proklamator Ir Soekarno karya Abdoel Rochman, dan lukisan Air Kehidupan karya Kariman.

"Dalam lukisan Jangan Pernah Melupakan Sejarah terdapat visualisasi Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi. Dia pernah menuliskan pesan kebangsaan kepada saya "Terus Berkarya untuk Bangsa dan Negara". Kemudian di dalam lukisan juga terdapat visualisasi guru melukis bernama Pak Po. Pak Po juga yang membuat saya bisa berada diantara Wali Kota Semarang. Ada juga visualisasi anak-anak, adik, wartawan dan orang-orang terdekat dengan saya," ujar ibu berusia 46 itu.

Pujowati menceritakan, mulai senang melukis sejak duduk di bangku SMAN 3 Semarang pada 1991. Saat itu bertemu dengan guru lukis bernama Ken Suharto. Lalu pada 1992 Ken Suharto mengenalkanya kepada pelukis asli Semarang yang akrab disebut Pak Po. Akhirnya belajar dan menekuni dunia melukis Selama 26 tahun bersama Pak Po.

Menurutnya, awal mula belajar melukis dengan meniru lukisan yang dijual Pasar Johar. Kemudian meniru lukisan itu untuk hadiah ulang tahun temanya. Tak hanya itu, ketertarikan untuk lebih serius belajar melukis ketika lukisan hasil karyanya bisa terjual. Hal itu merupakan suatu penghargaan atas hasil karya yang dibuatnya. Pada waktu itu, lukisan dijual Rp 35 ribu.

"Sampai sekarang sudah ada 70 lukisan dan pernah di pasang di Gallery Semarang. Termasuk juga melakukan pameran tunggal di Halaman Balaikota Semarang. Maka dalam pameran tunggal perayaan kemerdekaan ini merupakan sejarah bagi saya. Terkadang juga sering mendapatkan pesanan untuk melukis," imbuh wanita lulusan S2 di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Jurusan Kesehatan Masyarakat Ilmu Perlikau.

Walaupun dia sibuk bekerja di ASN Dinkes Provinsi Jateng, tetapi tak membuatnya berhenti untuk melukis. Semangat belajar melukis tetap tinggi. Waktu luangnya digunakan untuk melukis di rumah. Adapun jenis lukisan karyanya merupakan lukisan realistis. Cukup menggunakan cat dan kuas di atas kanvas ditekuninya hingga 28 tahun ini.

Baginya untuk menciptakan sebuah karya tak hanya mengandalkan bakat. Tetapi kemauan untuk terus belajar dan semangat.

"Memang banyak kendala saat melukis. Salah satunya terkait dengan waktu. Tapi waktu luang yang saya dapatkan selalu digunakan untuk melukis, sehingga pada 17 Agustus ini lukisan Jangan Pernah Melupakan Sejarah sudah selesai dan bisa dipamerkan. Tentu dalam sebuah siklus kehidupan manusia dari kecil sampai dewasa pasti akan tiada. Maka selama diberikan kesempatan hidup harus berusaha memberikan sesuatu yang terbaik," ungkapnya.


(Pamungkas Ashadi/CN39/SM Network)