• KANAL BERITA

Setelah Kemerdekaan Tak Ada Lagi Membedakan Suku hingga Ras

Bupati Batang, Wihaji, saat menyerahkan bendera Merah Putih kepada anggota Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) dalam upacara peringatan HUT ke-74 Republik Indonesia, yang digelar di alun-alun Batang. (suaramerdeka.com/Kasirin Umar)
Bupati Batang, Wihaji, saat menyerahkan bendera Merah Putih kepada anggota Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) dalam upacara peringatan HUT ke-74 Republik Indonesia, yang digelar di alun-alun Batang. (suaramerdeka.com/Kasirin Umar)

BATANG, suaramerdeka.com – Ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN), unsur TNI/Polri, pelajar, Mahasiswa, organisasi pemuda beserta elemen masyarakat lainnya, sejak pagi sudah berbaris rapi di alun-alun Kabupaten Batang, untuk mengikuti upacara bendera dalam rangka memperingati HUT ke 74 Republik Indonesia, Sabtu (17/8).

Bertindak sebagai Inspektur Upacara (Irup) Bupati Batang, Wihaji, dengan Komandan Upacara (Danup), Perwira Seksi Logistik (Pasi Log), Kapten CBA, Suwanto, dan Komandan Kompi (Danki) Paskibraka, Pasi Intel, Kapten CPM, Joko Wahyono. Kedua perwira tersebut adalah anggota Kodim 0736/Batang.

Upacara dihadiri Wakil Bupati Batang, Suyono, Komandan Kodim 0736/Batang, Letkol Kav Henry RJ Napitupuli, Kepala Polres Batang, AKBP Edi S Sinulingga, unsur pimpinan Dewan, segenap Kepala OPD dan undangan lainnya.

Bupati Batang, Wihaji, dalam membacakan sambutan tertulis Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pronowo mengatakan, pada masa perjuangan setelah kemerdekaan ini sudah semestinya kita tidak membedakan suku, agama atau pun ras. Tak peduli warna kulit, rambut, jenis kelamin, kaya atau pun miskin. Semua sama di mata negara. Founding fathers bangsa ini telah memberi contoh lewat laku, bukan sekadar gembar gembor persatuan. Mereka berdarah-darah menegakkan kemerdekaan.

"Pancasila sebagai dasar Republik Indonesia adalah harga mati. Tidak bisa ditawar dan harus kita tanam sedalam-dalamnya di Bumi Pertiwi. Pancasila inilah sebagai induk semangnya negara ini, yang di dalamnya bersemayam ajaran-ajaran agama: Hindu, Budha, Islam, Katolik, Kong Hu Chu dan Kristen. Yang di dalamnya bersemayam spirit-spirit berasaskan kebudayaan Nusantara. Kalaulah sistem pemerintahannya pernah berubah, toh akhirnya jiwa-jiwa yang telah menyatu dari Sabang sampai Merauke dari Miangas hingga Rote tidak bisa dipisahkan," jelasnya.

Dikatakan, tekad kebersamaan, senasib sepenanggungan inilah yang terus kita emban untuk menghadapi zaman. Sejak dilahirkan Indonesia mendapat berbagai tantangan dan persoalan berat. Mulai dari sering terjadinya bencana alam, korupsi, konflik sosial, gerakan separatisme dan radikalisme. Belum lagi tantangan modernisasi yang bergerak seiring dentang jam.


(Kasirin Umar/CN40/SM Network)