• KANAL BERITA

Setelah Kemerdekaan, Tak Bedakan Suku, Agama, dan Ras

Siapkan Anak-anak Menuju Galaksi

TANDA KEHORMATAN: Wali Kota Magelang, Sigit Widyonindito simbolis menyematkan tanda kehormatan Satya Lancana Karya Satya kepada ASN di lingkup Pemkot Magelang yang diberikan oleh Presiden RI, Joko Widodo atas pengabdiannya selama 10 tahun, 20 tahun, dan 30 tahun. (Foto suaramerdeka.com/Asef Amani)
TANDA KEHORMATAN: Wali Kota Magelang, Sigit Widyonindito simbolis menyematkan tanda kehormatan Satya Lancana Karya Satya kepada ASN di lingkup Pemkot Magelang yang diberikan oleh Presiden RI, Joko Widodo atas pengabdiannya selama 10 tahun, 20 tahun, dan 30 tahun. (Foto suaramerdeka.com/Asef Amani)

MAGELANG, suaramerdeka.com – Wali Kota Magelang, Sigit Widyonindito memimpin jalannya upacara peringatan HUT ke-74 Republik Indonesia di Lapangan Rindam IV/Diponegoro Magelang, Sabtu (17/8). Dia mengajak masyarakat untuk tidak mempermasalahkan suku, ras, dan agama para pahlawan pendahulu.

Dalam upacara yang diikuti berbagai elemen, seperti TNI, Polri, ASN, instansi negara, swasta, dan masyarakat umum ini, Sigit membacakan sambutan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Kebersamaan, Gotong Royong menjadi poin dalam isi sambutan tersebut.

“Seperti unngkapannya Gus Dur, orang tak akan bertanya apa agamamu, apa sukumu ketika berbuat baik. Setelah kemerdekaan ini, sudah semestinya kita tidak membedakan suku, agama, ataupun ras. Founding fathers bangsa ini telah memberi contoh lewat laku,” ujarnya.

Dia menuturkan, sebenarnya masyarakat Indonesia mewarisi semangat tersebut. Namun, terkadang masih memupuk borok dalam dada, membuat terlena hingga dengan rasa tanpa dosa saling menghina dan mencerca. Bahkan, ada yang nekad hendak mengganti Pancasila.

“Siapa yang mempermasalahkan Agustinus Adisucipto sebagai pahlawan. Apakah karena beliau seorang Katolik, lantas dari Hindu, Budha, Islam, Kristen, dan Kong Hu Chu menggerutu? Siapa pula yang mempermasalahkan kepahlawanan I Gusti Ngurah Rai, Untung Suropati, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari karena agamanya? Bibit jiwa kita adalah bibit tepo sliro, bibit andarbeni, bibit paseduluran,” katanya.

Sigit menegaskan, Pancasila sebagai dasar Republik adalah harga mati. Tidak bisa ditawar dan harus ditanamkan sedalam-dalamnya di Bumi Pertiwi. Pancasila inilah sebagai induk semangnya negera ini, 5 yang di dalamnya bersemayam ajaran agama Hindu, Budha, Islam, Katolik, Kong Hu Chu, dan Kristen.

“Di dalamnya pula bersemayam spirit berasaskan kebudayaan Nusantara. Kalaulah sistem pemerintahannya pernah berubah, toh akhirnya jiwa-jiwa yang telah menyatu dari Sabang sampai Marauke dari Miangas hingga Rote tidak bisa dipisahkan,” jelasnya.

Dia menambahkan, bangsa Cina dan India telah bergerak menuju bulan. Lalu bangsa Amerika telah bersiap membangun perumahan di Mars. Meski bangsa Indonesia saat ini belum mampu, tapi jangan biarkan anak-anak nanti hanya jadi penonton atas keberhasilan bangsa lain.
“Mari kita siapkan saat ini, kita bekali mereka dengan ilmu pengetahuan dan semangat toleran agar mereka juga bisa sampai ke Bulan, Mars, dan galaksi lain. Kitalah yang menanggung dosa besar jika mereka tertinggal,” tandasnya.

Dalam kesempatan ini, secara simbolis Sigit menyematkan tanda kehormatan Satya Lencana Karya Satya kepada 96 ASN di lingkup Pemkot Magelang yang diberikan oleh Presiden RI, Joko Widodo. Penganugerahan diberikan kepada mereka yang telah mengabdi selama 10 tahun, 20 tahun, dan 30 tahun.


(Asef Amani/CN19/SM Network)