• KANAL BERITA

Kader Fatayat NU Ikuti Kelas Ibu Sadar Stunting

SAMBUTAN: Ketua PW Fatayat NU, Tazkiyyatul Muthmainnah memberikan sambutan dalam Kegiatan Orientasi Kader Fatayat NU dalam Germas untuk Pencegahan Stunting di Ball Room Hotel GM Setos. (suaramerdeka.com / M Khabib Zamzami)
SAMBUTAN: Ketua PW Fatayat NU, Tazkiyyatul Muthmainnah memberikan sambutan dalam Kegiatan Orientasi Kader Fatayat NU dalam Germas untuk Pencegahan Stunting di Ball Room Hotel GM Setos. (suaramerdeka.com / M Khabib Zamzami)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Persoalan stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis di khususnya di Jawa Tengah masih tinggi. Oleh karena itu, Pimpinan Pusat (PP) Fatayat NU bersama Direktorat Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggelar kelas ibu sadar stunting untuk para kadernya. Ketua Umum PP Fatayat NU Anggia Ermarini hadir langsung dalam acara tersebut.

Ketua PW Fatayat NU Jateng, Tazkiyyatul Muthmainnah menyebut, program ini sementara baru digelar untuk dua Kabupaten di Jateng yakni Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Purbalingga. Fatayat NU Jateng, kata Iin sapaan akrabnya, akan terus mengawal pelaksanaan program ini hingga tingkat ranting atau desa. Selain itu, juga akan dilakukan diseminasi ke 20 kabupaten/kota lainnya.

Iin menilai, program ini sangat tepat ditujukan untuk kader Fatayat NU. Karena, mayoritas anggotanya saat ini masih dalam usia produktif yakni usia kehamilan, pengasuhan bayi dan anak. "Kami berharap Fatayat NU dapat ikut berkontribusi untuk menurunkan angka stunting," harap Iin dalam Kegiatan Orientasi Kader Fatayat NU dalam Germas untuk Pencegahan Stunting di Ball Room Hotel MG Setos, Rabu (14/8).

Ketua Umum PP Fatayat NU, Anggia Ermarini menyebut, berbagai upaya pencegahan stunting terus dilakukan. Misalnya dengan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya asupan gizi seimbang, cara memasak yang benar, pola asuh, penggunaan sanitasi, dan semua pola hidup sehat.

Pihaknya telah membentuk Barisan Nasional (Barnas) Fatayat NU Cegah Stunting yang tersebar di 34 provinsi. Barnas yang dibentuk pada 2017 itu merupakan realisasi dan komitmen Fatayat NU untuk mencegah stunting.

"Mereka bertugas melakukan sosialisasi kepada masyarakat melalui berbagai forum. Kader Barnas memasukkan isu stunting ke dalam pembahasan agar masyarakat terbiasa dengan istilah itu," kata Anggi.

Tingkatkan Kesadaran

Kabid Kesmas Dinkes Jateng, Wahyu Setyaningsih dalam sambutannya menyampaikan, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang terus digalakkan masih belum sebanding dengan angka penurunan stunting. Data Riskesdas 2018 tercatat, angka stuntng di Indonesia sebesar 30 persen. Artinya, sekitar 9,1 juta anak Indonesia masih terkena stunting atau tiga dari 10 anak mengalami stunting.

"Penting untuk membangun wawasan tentang kesehatan. Hal itu guna meningkatkan kesadaran masyarakat untuk hidup sehat agar mencapai derajat kesehatan yang tinggi," ujar Wahyu Setyaningsih.

Sistem yang telah dibangun, kata dia, harus dikelola dengan baik. Penyakit tidak menular bisa dicegah. Namun demikian, ada faktor risiko yang tidak bisa dikendalikan seperti umur, penyakit yang disebabkan oleh faktor genetik (keturunan), dan jenis kelamin. Untuk mengatasinya, diperlukan pola hidup sehat. Antara lain dengan meningkatkan intensitas aktivitas fisik, kemudian menjaga pola makanan yang sehat, serta melakukan cek kesehatan secara rutin.

Sekitar 100 kader Fatayat NU dari Kabupaten Banyumas dan Purbalingga dibagi ke dalam empat kelas. Yakni kelas pencegahan stunting untuk remaja, ibu hamil, ibu menyusui atau dengan balita, dan kelas peran keluarga dalam pencegahan stunting. Setiap kelas dipandu oleh dua orang fasilitator masing-masing dari Direktorat Promosi Kesehatan, PP Fatayat NU, Dinkes Provinsi Jateng, dan PW Fatayat NU Jateng.


(Mohammad Khabib Zamzami/CN30/SM Network)