• KANAL BERITA

PLTN Solusi Atasi Krisis Energi

Simposium Teknologi Nuklir di Unnes

NOTA KESEPAHAMAN: Wakil Rektor I Unnes, Zaenuri (empat dari kanan) saat menandatangani nota kesepahaman dalam simposium internasional di Gedung Dekanat FMIPA Unnes. (suaramerdeka.com / Royce Wijaya)
NOTA KESEPAHAMAN: Wakil Rektor I Unnes, Zaenuri (empat dari kanan) saat menandatangani nota kesepahaman dalam simposium internasional di Gedung Dekanat FMIPA Unnes. (suaramerdeka.com / Royce Wijaya)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Pemanfaatan nuklir sebagai energi baru bisa menjadi opsi untuk mengatasi krisis energi di Indonesia. Negeri ini membutuhkan energi, sehingga perlu mengeksplorasi energi baru dan terbarukan. Karenanya, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) bisa jadi satu upaya membangun sumber energi. Terlebih lagi, pemanfaatan nuklir sudah masuk Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

Demikian diungkapkan Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Prof Dr Ir Anhar Riza Antariksawan saat memberikan keterangan pers disela-sela simposium internasional teknologi nuklir di Gedung Dekanat, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Negeri Semarang (Unnes), Rabu (14/8). "Indonesia membutuhkan energi, sudah ada peraturan presiden tentang kebijakan energi nasional. Eksplorasi sumber energi terbarukan harus dilakukan, seperti halnya nuklir," jelas Anhar.

Menurut dia, BATAN telah melakukan studi tapak dan kelayakan di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Kalimantan Barat. Bukan inisiatif institusinya, tapi pemerintah daerah setempat yang meminta eksplorasi sumber energi baru tersebut. Atas rencana pembangunan PLTN, BATAN siap bantu aspek teknologinya. Generasi PLTN saat ini, jauh berbeda dari sebelumnya. Di Jepara, PLTN dulu sempat ramai diperbincangkan masyarakat.

Dalam keterangan pers itu, selain Anhar, hadir Wakil Rektor I Unnes Prof Dr Zaenuri, Dewan Penasihat Presiden Indonesia, Irjen Pol Purn Sidarto Danusubroto SH, Staf Ahli Menteri Bidang Relevansi dan Produktifitas, Kemenristekdikti, Dr Ir Agus Puji Prasetyono MEng. Menurut Agus, bicara industri sebenarnya harus ditopang energi kuat. Indonesia selama ini mengandalkan impor minyak dan sekarang menuju ke gas, maka pemanfaatan energi baru seperti PLTN perlu dilakukan.

"Pembangunan PLTN ini sebenarnya membutuhkan lahan sedikit, tapi menghasilkan tenaga tinggi atau besar. Tidak memakai sistem konvensional, teknologi PLTN ini menggunakan sistem keamanan yang bagus. "Karena memakai sistem, nuklir akan mengamankan diri saat ada Tsunami, bencana alam, dan gangguan lainnya," jelasnya.

Zaenuri menjelaskan, simposium ini menghadirkan peserta, seperti dari negara Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Singapura.


(Royce Wijaya/CN26/SM Network)