• KANAL BERITA

Sedot Penonton, Bikin Raja Kraton Jogja Bertahan Tiga Jam Nonstop

Gala Premier Film Bumi Manusia

NONBAR: Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X didampingi sang istri GKR Hemas dan salah satu putrinya GKR Maduretno serta sutradara Hanung Bramantyo bersiap mengikuti nonbar Gala Premiere Film Bumi Manusia di di Bioskop Empire XXI Yogyakarta. (suaramerdeka.com / Gading Persada)
NONBAR: Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X didampingi sang istri GKR Hemas dan salah satu putrinya GKR Maduretno serta sutradara Hanung Bramantyo bersiap mengikuti nonbar Gala Premiere Film Bumi Manusia di di Bioskop Empire XXI Yogyakarta. (suaramerdeka.com / Gading Persada)

DENGAN  Melawan Kita Takkan Sepenuhnya Kalah". Kutipan di novel Bumi Manusia besutan Pramoedya Ananta Toer yang diucapkan Nyai Ontosoroh (diperankan Sha Ine Febriyanti) kepada Minke (Iqbaal 'Dillan' Ramadhan) saat keduanya harus merelakan kepergian Annaliese (Mawar de Jongh) ke Belanda dalam sebuah  scene  di film berjudul sama, kiranya mampu menggambarkan bahwa perlawanan memang harus dilakukan jika ketidakadilan telah melanda.

 

Nyai Ontosoroh, seorang gundik pribumi dan wanita yang tak pernah diperistri resmi Herman Mellema, pengusaha susu asal Belanda di Wonokromo, harus merelakan Annaliese, darah dagingnya sendiri dipulangkan secara paksa ke negeri asal ayahnya di Belanda hanya karena hukum di negara Eropa tak mengakui statusnya sebagai seorang ibu yang melahirkan Annaliese.

Begitu juga perlawanan Minke, seorang anak Bupati yang harus bersusah payah membuktikan diri sebagai suami sah Annaliese dengan sebuah surat keterangan menikah secara Islam, tetap juga hanya bertepuk sebelah tangan.

Ya, maka benar seperti diutarakan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X yang sangat betah ikut nonton Gala Premier Bumi Manusia di Bioskop Empire XXI Yogyakarta, Selasa (13/8) malam selama hampir tiga jam nonstop, menyebut film besutan sutradara Hanung Bramantyo itu mampu menyajikan potret detail bagaimana seseorang dahulu membuat tatanan atau aturan hukum, bagaimana menghargai orang berdasarkan kulitnya, bagaimana penjajahan dan yang dijajah, hingga gambaran bagaimana tidak adanya hukum yang memberikan keadilan.

Lebih dari itu, film tersebut juga mampu menuntun para penonton memiliki kesadaran akan pentingnya membangun persaudaraan, pertemanan, serta menghargai sesama. “Jadi memang itu kompleks sekali, tapi di situlah kita bisa paham. Bagaimana arti penjajahan itu dan bagaimana arti kehidupan yang keadilan itu ditafsirkan sendiri-sendiri tanpa ada kepastian,” kata Raja Keraton Ngayogyakarta usai acara nobar.

Sri Sultan mengaku terkesan dengan kedalaman nilai yang terkandung dalam film tersebut. Dia pun ingin penonton usai menonton bisa mengkritisi berbagai aspek. Bukan sebatas cerita, kostum pada zaman cerita itu dibuat, hingga  lighting  film.  “Kalau filmnya itu cerita dari Pramoedya, ya jelas itu yang bisa dinikmati. Kesan saya bagaimana cerita itu bukan bicara klimaks, seperti cerita yang lain, tetapi kedalaman 'values' (nilai),” imbuhnya.

Kehormatan

Sultan menghadiri gala premiere didampingi istri, GKR Hemas dan salah satu putrinya GKR Maduretno. Hadir pula para pemeran yakni Mawar de Jongh, Sha Ine Febriyanti, Donny Damara, serta sutradara Hanung Bramantyo.

“Suatu kehormatan buat kita semua, buat saya terutama karena baru kali ini film saya ditonton bersama beliau (Sultan HB X) dan ini membuktikan bahwa beliau memberikan apresiasi yang cukup besar terhadap karya pak Pramoedya Ananta Toer,” sambung Hanung.

Bagi dia, yang terpenting film garapannya yang diadapasi dari novel yang sudah diterbitkan ke dalam 33 bahasa itu bisa selesai dan bisa dinikmati masyarakat pada tahun ini. Menurut dia kisah di balik film lebih memiliki sejarah besar. Sebab, Pramoedya menulis naskah buku itu dari balik jeruji besi. Bahkan, ketika naskah sudah menjadi buku sempat terjadi pelarangan. 

“Sungguh sebuah drama yang lebih besar dibandingkam filmnya. Buat saya film ini bisa selesai, bisa dinikmati dan bisa dianggap film yang tidak mencederai novelnya saja sudah cukup. Yang lain seperti jumlah penonton, berapa, itu bonus,” jelasnya.

Sutradara asli Jogja itu pun berusaha menjalankan atau mengatur alur film dengan sejumlah keterbatasan. Terlebih banyaknya keterlibatan dengan sekitar seribu kru dan artis itu yang  digarap 80 persen berlatar di Yogyakarta. “Saya pribadi kami di sini berusaha menunaikan yang terbaik dari keterbatasan,” imbuhnya.

Hari ini film Bumi Manusia bersama dengan film lainnya berjudul Perburuan yang juga diadaptasi dari novel Pramoedya Ananto Toer resmi tayang di bioskop-bioskop Tanah Air.

“Alhamdulillah, film Bumi Manusia mendapatkan respon positif dari masyarakat Jogja. Terimakasih juga buat Sri Sultan Hamengku Buwono X yang sudah mendukung film ini, dengan hadir di Empire XXI. Kalau melihat dari respon masyarakat, optimistis film ini bisa mendapatkan animo yang baik. Yang penting, setelah menonton film ini, penonton bisa mendapatkan sesuatu tentang bagaimana beratnya perjuangan untuk mendapatkan kemerdekaan,” tandas Nova Sardjono, selaku Ketua Tim Bumi Manusia.


(Gading Persada /CN26/SM Network)