• KANAL BERITA

Trans Semarang Mengeluh Pendapatan Turun, Ini Kata Djoko Setijowarno

Foto: suaramerdeka.com/Dok
Foto: suaramerdeka.com/Dok

SEMARANG, suaramerdeka.com - Pengamat transportasi Unika Soegijapranata Djoko Setijowarno menganggap keliru, jika Trans Semarang yang dikelola oleh Badan Layanan Umum (BLU) bisa mandiri. Menurutnya jika ingin mandiri sebaiknya dibentuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk mengelola layanan transportasi massal itu.

"Tetapi jika dikelola BUMD maka harus siap-siap ditarget pendapatan oleh pemerintah dan DPRD. Konsep BLU sebenarnya untuk memudahkan pengelolaan," kata Djoko di Semarang.

Menurutnya, anggapan setelah ada BLU kemudian subsidi ditiadakan karena hal itu salah kaprah. Dengan adanya BLU sebagai pengelola diharapkan adanya peningkatan pelayanan, sebagai akibat luwesnya penggunaan anggaran.

"Pemasukan tiket penumpang yang murah tidak akan menutup biaya operasional transportasi umum. Tidak elok untuk pelayanan publik bicara pendapatan," tuturnya.

Keberadaan Trans Semarang untuk melayani publik dengan pemberian subsidi operasional, sehingga tarifnya murah. Dengan tarif yang terjangkau, diharapkan banyak warga yang beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum Trans Semarang.

Bukan yang semula naik angkot berpindah ke Trans Semarang, itu berarti tidak ada perubahan perilaku menggunakan angkutan umum massal di Kota Semarang. Sisi lain, dengan adanya Trans Semarang, ada perbaikan nasib awak dan pengusaha angkot di jalur eksisting. 

"Realitanya muncul pengusaha baru bukan mengajak operator eksiting, seperti di Koridor 6 Undip-Unnes yang tingkat isiannya pasti rendah," tambah Dosen Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang itu.

Perihal gaji awak kendaraan tentunya bukan berasal dari pendapatan tapi dari besaran subsidi yang sudah dihitung sejak awal pada saat lelang. Sekali lagi masih kata Djoko, konsep BLU sebagai ikhtiar untuk peningkatan pelayanan bukan sebagai penambahan pendapatan.

"Lain halnya jika dibentuk sebuah UPT (Unit Pelayanan Terpadu) maka tidak seluwes BLU. Untuk BLU yang kelola layanan publik tetap harus dapat subsidi operasional dari APBD," tutur Djoko.

Mengenai pendapatan, pengelola tidak hanya mengandalkan dari tiket tetapi bisa dari pemasangan iklan di halte, di dalam maupun di luar bus atau usaha lain yang bisa mendatangkan keuntungan.

Keberadaan Trans Jateng justru membuat warga Semarang sekitarnya makin banyak pilihan angkutan umum, lantaran frekuensi kehadiran bus di halte yang semakin sering sehingga tidak perlu menunggu lebih lama.

Perlu diketahui untuk Trans Jateng satu koridor mendapat subsidi sekitar Rp 15 miliar per tahun, dengan catatan pengadaan bus diadakan oleh operator. Sementara Trans Semarang, masih cukup besar dan di beberapa rute mendapat bantuan hibah bus dari Kementerian Perhubungan.

Sebelumnya Kepala Badan Layanan Umum (BLU) UPTD Trans Semarang Ade Bhakti seperti dilansir sebuah media online, mengeluhkan kehadiran bus Trans Jateng koridor Stasiun Tawang-Terminal Bawen dan koridor Kendal-Semarang yang akan segera diluncurkan mengurangi pendapatan dari sektor tiket penumpang.


(Puthut Ami Luhur/CN39/SM Network)