• KANAL BERITA

Parpol Mulai Jalin Komunikasi Pembentukan Koalisi Fraksi

Partai yang Memiliki Kurang dari Empat Kursi

BERJABAT TANGAN: Anggota Dewan Suharsono (PKS) berjabat tangan dengan koleganya di sela geladi bersih di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kota Semarang. (suaramerdeka.com / Irawan Aryanto)
BERJABAT TANGAN: Anggota Dewan Suharsono (PKS) berjabat tangan dengan koleganya di sela geladi bersih di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kota Semarang. (suaramerdeka.com / Irawan Aryanto)

JALINAN  komunikasi untuk koalisi pembentukan fraksi di DPRD Kota Semarang telah dijajaki oleh sejumlah partai politik (Parpol). Mereka yang melakukan proses tersebut dikarenakan tidak memungkinkan untuk melakukan pembentukan fraksi secara mandiri karena kekurangan jumlah kursi. Usaha menggandeng partai lain merupakan sebuah hal yang mesti dilaksanakan, untuk dapat melengkapi syarat terbentuknya sebuah fraksi. Melalui pembentukan fraksi gabungan.

Berdasarkan aturan yang ada, syarat pembentukan sebuah fraksi pada legislatif harus sesuai jumlah alat kelengkapan komisi. Untuk Kota Semarang, jumlah komisi terdiri atas empay yakni Komisi A, Komisi B, Komisi C, dan Komisi D. Itu artinya, Parpol harus memiliki minimal empat kursi untuk dapat membentuk fraksi mandiri.

"PAN masih menjajaki untuk menjalin komunikasi dengan sejumlah parpol lain, dalam usaha pembentukan fraksi gabungan. Itu karena saat ini, PAN di DPRD Kota Semarang hanya memiliki dua kursi. Kami belum bisa memberitahu arah komunikasinya ke partai mana, yang jelas ke sejumlah parpol. Kami juga meyakini tidak akan ada kendala kinerja. Walaupun tidak memungkiri, tentunya akan ada perbedaan jika bisa menjadi satu fraksi mandiri,'' tutur Sekretaris DPD PAN Kota Semarang, Umi Surotud Diniyah, Selasa (13/8).

Berbeda dari periode sebelumnya, PAN mampu membentuk fraksi mandiri karena memiliki empat kursi. Walaupun kemudian mendapatkan tawaran bergabung dengan PPP yang memperoleh dua kursi pada Pileg 2014. Namun, penggunaan namanya tetap Fraksi PAN.

"PAN memang mengalami penurunan perolehan kursi pada Pileg 2019. Ini kemungkinan terjadi berkat adanya efek ekor jas atau <I>coat-tail effect<P> yang terjadi karena pelaksanakan Pileg disandingkan dengan Pilpres 2019. Salah satunya, karena PAN tidak menampilkan kadernya menjadi calon presiden ataupun calon wakil presiden. Ini ternyata memiliki efek yang kurang menguntungkan bagi PAN," papar dia.

Walaupun begitu, Umi Surotud Diniyah menyebut, kenaikan dan penurunan jumlah kursi pada legislatif merupakan hal yang lumrah terjadi pada sebuah parpol. Apalagi, penurunan jumlah kursi PAN tersebut, kata dia, terjadi pada tingkatan nasional. Artinya, sejumlah daerah lainnya pun mengalami hal yang sama, di luar Kota Semarang.

''Kami sebenarnya telah berupaya sedemikian rupa agar meraih hasil maksimal dalam perolehan kursi. Setiap calon anggota legislatif pada waktu itu sudah turun ke bawah dan bertemu langsung masyarakat. Hanya saja, anggota legislatif dari partai lain ternyata berjuang dengan lebih keras,'' kata dia.

Tidak Mendongkrak

Adapun Sekretaris DPD Golkar Kota Semarang, Anang Budi Utomo, menyatakan, perolehan suara Golkar sebenarnya mengalami peningkatan pada pelaksanaan Pileg 2019. Dari sekitar 56.000 lebih suara pada Pileg 2014, menjadi 66.000 suara pada Pileg 2019. Hanya saja, hal tersebut ternyata tidak mampu membantu mendongkrak perolehan kursi partai berlambang pohon beringin tersebut di Kota Semarang.

"Golkar mengalami penurunan dua kursi pada Pileg 2019. Dari sebelumnya lima kursi, sekarang hanya menjadi tiga kursi. Untuk itu, kami harus kembali mengatur strategi agar kembali mendapatkan simpati dan kepercayaan masyarakat terhadap caleg-caleg dari Golkar. Kami akan berusaha lebih keras, untuk memulihkan atau meningkatkan jumlah kursi pada Pileg 2024," kata dia.

Anang Budi Utomo menyebut, ada ketidakmerataan dalam perolehan suara pada tiap-tiap Dapil yang diikuti caleg Golekar pada Pileg 2019. Itu yang menjadi alasan kenapa peningkatan perolehan suara, ternyata tidak mampu dibarengi dengan penambahan kursi di DPRD Kota Semarang.

"Pada Dapil tertentu perolehan suaranya meningkat drastis, tapi di Dapil lainnya ternyata suara tidak mampu memenuhi untuk mencapai satu kursi. Distribusi pemilih antara Dapil satu dengan yang lainnya ternyata tidak seimbang. Untuk selanjutnya, akan ada evaluasi dan instropeksi kepada Dapil yang belum memberikan sumbangan kursi," ujar dia.

Terpisah, Wakil Ketua DPD Golkar Semarang, Wisnu Pudjonggo, menyatakan, partainya telah menjalin komunikasi dengan sejumlah parpol lain untuk pembentukan fraksi gabungan. Hanya saja, pendekatan paling intensif telah dibangun dengan partai Nasdem. Parpol tersebut memperoleh dua kursi pada penyelenggaraan Pileg 2019.

"Kalau bergabung dengan Nasdem maka jumlahnya menjadi lima kursi, sehingga cukup untuk membentuk menjadi fraksi gabungan. Selanjutnya, akan butuh komunikasi dan kebersamaan saat sudah menjadi satu fraksi. Untuk itu, sudah tidak boleh lagi ada egoisme. Tidak lagi berbicara bekerja hanya pada Dapil tertentu, walaupun tetap memperhatikan dan mengutamakan konstituennya. Sebagai basis pendukung dan pendulang suara. Namun, semuanya harus dibangun dalam rangka untuk mencapai kepentingan masyarakat luas," tambah dia.


(Muhammad Arif Prayoga/CN26/SM Network)