• KANAL BERITA

Kurikulum Indonesia Kerap Disebut Kurang Mengakomodasi Perkembangan Zaman

Foto: istimewa
Foto: istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Nadia Fairuza Azzahra mengatakan, kurikulum Indonesia sering disebut kurang mengakomodasi perkembangan zaman.

"Sebagai contoh, kurikulum SMK di Indonesia pada saat ini tidak mengakomodasi kebutuhan industri. Akibatnya, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) terbesar berasal dari lulusan SMK. Hal ini tentu sangat disayangkan mengingat bahwa tujuan SMK merupakan mencetak lulusan siap kerja yang dapat langsung terjun ke industri," kata dia.

Sistem zonasi sekolah juga beberapa tahun belakangan memeroleh penolakan keras dari masyarakat. Hal ini terjadi karena adanya singkronisasi yang kurang baik antara pemerintah pusat dan daerah serta permasalahan persebaran sekolah terutama di daerah-daerah terpencil yang menyebabkan zonasi tidak berjalan baik. Hal ini tentu harus menjadi pekerjaan rumah untuk pemerintah.

“Selain itu, kualitas guru yang masih di bawah rata-rata masih menjadi salah satu isu utama lain yang kerap kali dibahas dari tahun ke tahun. Ketidakhadiran guru terutama di sekolah-sekolah yang berada di daerah terpencil, metode pengajaran yang sulit dicerna, serta kurangnya kompetensi guru dalam mengajar mata pengajaran tertentu menjadi beberapa contoh permasalahan guru di Indonesia. Tentu saja tanpa kualitas guru yang baik, harapan untuk mencetak anak bangsa yang berkualitas akan sulit tercapai,” urai Nadia.

Oleh karena itu, Hari Anak Nasional 2019 ini sekiranya dapat menjadi momen refleksi bagi pemerintah dan masyarakat akan arti pentingnya pendidikan berkualitas untuk anak-anak Indonesia. Indonesia merupakan negara yang diprediksi akan menjadi negara maju pada tahun 2030 dengan adanya bonus demografi yang melimpah. Memetik keuntungan dari bonus demografi akan sulit untuk diwujudkan tanpa adanya komitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

 


(Andika Primasiwi/CN26/SM Network)