• KANAL BERITA

Kapasitas Petani Garam Nasional Perlu Peningkatan

Foto Istimewa
Foto Istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Pemerintah sebaiknya membenahi permasalahan komoditas garam mulai dari hulunya, salah satunya dengan meningkatkan keterampilan produksi para petani garam. Hal ini dimaksudkan agar garam produksi mereka juga bisa digunakan untuk kebutuhan industri. Selama ini kebutuhan garam industri dipenuhi melalui impor.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania mengatakan, impor garam tidak lepas dari belum mampunya para petani garam lokal untuk memenuhi kebutuhan industri. Selain itu, harga garam lokal juga relatif lebih mahal daripada garam impor dan kualitasnya juga masih berada di bawah garam impor. Garam industri harus harus memenuhi ketentuan tertentu yang dibutuhkan industri.

“Pemerintah sebaiknya mengupayakan berbagai kegiatan untuk peningkatan kapasitas produksi petani garam. Dengan adanya peningkatan kapasitas petani, diharapkan ke depannya hasil produksi garam lokal juga bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan industri sehingga pasar mereka semakin luas dan tidak hanya untuk garam konsumsi saja,” ungkapnya.

Kegiatan-kegiatan yang dimaksud antara lain adalah mengenalkan teknologi bercocok tanam secara teori maupun praktek, pelibatan iptek dan membuka kesempatan kepada para petani untuk belajar langsung ke negara-negara produsen garam besar di dunia. Selain itu, pemerintah juga seharusnya bisa memaksimalkan peran penyuluh pertanian supaya mereka bisa memberikan pendampingan kepada para petani.

Jumlah kebutuhan ini, lanjut Galuh, diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan penduduk dan meningkatnya industrialisasi. Seharusnya potensi peningkatan pendapatan petani melalui garam industri bisa segera ditanggapi secepat mungkin. Memperluas lahan tambak garam tidak akan sepenuhnya efektif tanpa adanya peningkatan keterampilan produksi petaninya.

Harga jual garam hasil produksi petambak turun hingga 50%. Harga garam petani tambak hanya senilai Rp300-Rp500 per kilogram. Jumlah ini menurun kalau dibandingkan dengan harga di bulan Juni yang berkisar antara Rp800-Rp1.000 per kilogram. Salah satu penyebab jatuhnya harga garam dikarenakan rendahnya kualitas garam yang dihasilkan para petani garam. Garam yang dihasilkan petani memiliki kadar natrium klorida (NaCL) yang kurang dari 94%.


(Red/CN19/SM Network)