• KANAL BERITA

RK Playmaker, Uu Gelandang & Kedalaman Skuat

foto: suaramerdeka.com/Setiady Dwi
foto: suaramerdeka.com/Setiady Dwi

UNTUK urusan program, ibarat permainan sepakbola, Ridwan Kamil bermain dengan banyak posisi di periode awal menjabat sebagai Gubernur Jabar. Kadang striker, tetapi lebih banyak berperan sebagai play maker guna mengkreasi targetan yang direpresentasikannya dalam sesanti "Jabar Juara Lahir Batin".

Dengan posisi seperti itu, peran deputinya, Uu Ruzhanul Ulum memang seperti tenggelam. Terlebih, selepas dilantik pada 5 September 2018 di Istana Negara, sang Wagub Jabar ini malah cenderung "menyepi" dengan lebih banyak menghabiskan agenda kegiatannya di kawasan Priangan Timur, terutama Tasikmalaya yang menjadi tanah kelahirannya.

Harus diakui magnet Ridwan Kamil yang baru menjabat Jabar 1 setahun ini memang lebih menarik. Mirip-mirip pemain tengah berstyle flamboyan. Gerak-geriknya seperti dinantikan. Apalagi akun sosmednya yang kerap menjadi barometer karena digunakan sebagai ajang melepas terobosan program yang bakal dirancang untuk pembangunan di Jabar.

Selepas menjawab tradisi 100 hari dengan meresmikan 17 program di antaranya Jabar Quick Response, Kredit Mesra (Masyarakat Ekonomi Sejahtera), Jabar Saber Hoaks, Desa Digital, Sekoper Cinta (Sekolah Perempuan Capai Impian dan Cita-cita) melibatkan istrinya Atalia yang merupakan Ketua Tim Penggerak PKK, dan Satu Desa Satu Perusahaan pada akhir tahun lalu, RK belakangan ini mulai lebih rajin turun ke lapangan seperti halnya "gelandang pengangkut air".

Sejumlah daerah menjadi atensinya. Di antaranya Kabupaten Majalengka, Kabupaten Pangandaran, dan Kabupaten Purwakarta. Tema kunjungan ke tiga wilayah tersebut mempunyai irisan yang sama yakni pengembangan kepariwisataan yang dijadikan andalan RK guna menggenjot pertumbuhan wilayah. Iramanya pun seragam, bagaimana inovasi dan kreativitas bisa dikedepankan dalam membangun potensi yang berlimpah.

Khusus Majalengka, Emil, sapaan intimnya, bahkan kurang dari sepekan, mengunjunginya sebanyak dua kali. Pertama ke kawasan Desa Wisata Bantaragung, Sindangwangi dan kemudian ke kawasan industri tanah liat Jatiwangi pada akhir Juni lalu. Ekstra perhatian ini tak terlepas dari posisi Majalengka sebagai gerbang utama Bandara Internasional Kertajati.

Secara otomatis, kabupaten tersebut bakal menjadi etalase Jabar sehingga harus bersiap sejak dini. Emil pun tak menampiknya. Karena itu dia mengingatkan perlunya kesan kuat. Sekaligus identitas wilayah guna menjaring potensi ekonominya.

Dia misalnya memberi tenggat ke pengrajin tanah liat untuk bisa berlari dalam menyambut peluang di era global. Dia pun mewanti-wanti bahwa kunci perubahannya adalah mindset yang lebih komprehensif, terutama dalam menyikapi transformasi yang terjadi. Pasar yang menjanjikan, katanya, butuh kreativitas plus kemauan kuat untuk berubah.

RK pun mengusulkan pengrajin tanah liat beralih ke produk terakota setelah redupnya industri genteng, yang dinilainya bisa menyerap pula pekerja seni setempat. "Bedakan Majalengka dengan wilayah lain melalui terakota. Bisa dimulai dari pagar pemerintahan dan instansi, pintu-pintu masuk, pagar rumah warga, ini harus dimulai. Pasti mampu karena saya pernah menemukan terakota yang digarap di sini dipakai di Jakarta. Saya beri waktu enam bulan, saya nanti ke sini lagi," jelasnya, laiknya kapten tim yang memberi motivasi rekannya di ruang ganti.

Di Purwakarta, pria berlatar arsitek itu berkunjung pula dua kali dalam tempo kurang dari sebulan. Fokusnya Waduk Jatiluhur. Dia ingin keberadaannya tak sebatas dimanfaatkan untuk kepentingan pengairan. Untuk itu, RK meminta semua pihak optimal dalam menunjang perubahan yang dilakukan terutama dari sisi kreativitas. Pasalnya, pengembangan pariwisata tak bisa dilakukan setengah-setengah.

Diingatkan, efeknya ke pertumbuhan ekonomi signifikan. Kenaikannya, tegas jebolan ITB ini, bisa sampai 5 kali lipat. "Karenanya, ini perlu visi baru dalam merumuskannya, dan dimensi (pendekatan) yang tak boleh pas-pasan," jelas mantan Wali Kota Bandung itu.

Saat melawat ke Priangan Timur, RK meminta nada yang sama. Semua pihak termasuk kalangan perguruan tinggi setempat, mampu merespon semenjak dini atas efek sejumlah proyek infrastruktur. Salah satunya Tol Cileunyi-Garut-Tasikmalaya (Cigatas) yang bakal memberikan dampak ekonomi signifikan hingga Pantai Pangandaran. Mobilitas orang, barang, dan jasa bakal semakin meningkat.

Keberpihakannya pun diperlihatkan saat mendorong warga Kecamatan Cisayong, Tasikmalaya untuk mengembangkan homestay.  Sebelum ramai penginap, pihaknya merencanakan moratorium pembangunan hotel di sekitar kawasan tersebut. Hanya saja, dia meminta homestay itu dikelola dengan standar sehingga memberikan kenyaman bagi pengunjungnya.

Homestay itu tak terlepas dari lapangan sepakbola berkualitas yahud dengan rumput berstandar tinggi di desa tersebut. Padahal letaknya di pinggiran desa. Keberadaannya pun kemudian jadi buah bibir sehingga kerap disewa dengan omset yang diperoleh Bumdes setempat mencapai 30 juta perbulan. Emil ingin lapangan serupa ditularkan ke desa-desa lainnya di Jabar.

"Karena ini bisa menjadi cara untuk membuat desa naik kelas, maju dan lebih maju lagi, tak lagi tertinggal, mereka sanggup memaksimalkan kekhasannya," jelasnya, yang belakangan meningkatkan frekuensi kunjungannya ke desa-desa guna mempermaknya menjadi desa unggulan.

Emil tentu berharap program-programnya itu yang digelindingkan dalam semangat "ngabret" (cepat) bisa segera terealisasi. Kreasinya sebagai play maker pembangunan di Jabar dengan "menskemakan serangan" itu dapat secepatnya berbuah gol. Dukungan dari semua pihak tentunya diharapkan. Toh pembangunan sejatinya berdasar sinergi manis di antara semua pihak.

Seiring dengan derap Emil melecut potensi daerahnya, wakilnya Uu Ruzhanul Ulum pun tampaknya mulai mengambil peran. "Area permainannya" memang sedikit berbeda meski sama-sama di posisi gelandang. Mantan Bupati Tasikmalaya itu cenderung memilih pembinaan sumber daya manusia.

Dalam lawatannya ke Cianjur akhir pekan ini, dengan menemui penggiat karang taruna dan kepala sekolah menengah atas misalnya, dia tampak concern pada isu nasionalisme, ancaman paham radikal, dan pembinaan akhlak. Dia pun mengingatkan peran strategis kepala sekolah yang juga merupakan ASN dalam membentuk anak didik.

"Kalau kepala sekolahnya biasa saja, datang kemudian diuk (duduk), hanya mengobrol, dan tak memberikan motivasi lebih baik mundur saja. Karena kalau kualitasnya biasa-biasa saja, ya lima tahun ke depan, produknya juga biasa-biasa saja, harusnya ngabret, apalagi di era kreativitas dan inovasi, hal yang jadi perhatian utama kami," jelasnya.

Sebelum menyatakan hal tersebut, Uu sempat melampiaskan kejengkelannya. Pasalnya, sejumlah kepala sekolah memilih tak hadir. Padahal dia tengah memanfaatkan pertemuan tersebut untuk ajang memupuk visi dan misi Jabar juara. Baginya, para ASN itu telah menciderai loyalitasnya sebagai abdi negara.

Dalam kaitan itu, Kabid Pengembangan & Karier BKD Jabar, Dedi Mulyadi pernah menyebut bahwa visi dan misi Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul Ulum memang cukup rumit. Situasinya jika tak dicermati secara tepat, bakal menghadirkan beban berat bagi ASN di lingkup Pemprov Jabar. Karena itu, pihaknya akan melakukan banyak penyegaran melalui rotasi untuk merangsang kreativitas dan inovasi.

Sebagai mesin utama, ASN memang bakal mengambil peran vital guna menunjang perubahan yang ingin dilakukan kepala daerah yang baru. Mereka tak bisa lagi menjalankan birokrasi semata-mata berbasis ketentuan regulasi dan prosedural. Seperti halnya permainan sepakbola, perkembangan skema dan taktik bergerak semakin modern. Mereka harus responsif dan adaptif terutama dalam menerapkannya di lapangan.

Kedalaman skuat bakal benar-benar menjadi kunci, terutama dalam menajamkan program. Karena sekelas Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo pun butuh sokongan pemain lain untuk tampil moncer. Demikian pula Ridwan Kamil. Sisa empat tahun ke depan masa kepemimpinannya akan menjadi bukti apakah dia yang juga masuk bursa Capres 2024 mampu menciptakan lebih banyak "gol-gol berkelas". Sehingga mampu mengantarkan Jabar juara, rakyatnya pun sejahtera.


(Setiady Dwi/CN40/SM Network)