• KANAL BERITA

KH Kholil Harun, Imam Sibawaihnya Jawa

Oleh: Adib Bisri Khaththani

Foto: suaramerdeka.com/Agus Fathuddin Yusuf
Foto: suaramerdeka.com/Agus Fathuddin Yusuf

KH Kholil Harun Kasingan Rembang (popular disebut Kiai Kholil Kasingan) lahir di Sarang, Rembang pada tahun 1293 Hijriah bertepatan 1876 Masehi, putra terakhir Mbah Harun dari Sarang. Ibunya bernama Sintok. Saudara-saudaranya adalah Kiai Machfudl, Kiai Umar, Kiai Fadlil, Kiai Shodiq. Kesemuanya adalah ahli-ahli ilmu dan agama.

Ibunya, Sintok binti Lanah, adalah adik dari KH Ghozali Sarang. Mbah Harun meninggal dunia ketika Kyai Kholil masih kecil. Sejak usia anak-anak, mbah Kholil Harun berada dalam pengawasan kakaknya Kiai Umar Harun dan Pamannya Kyai Ghazali Sarang. Keuntungan yang besar ini disambut dengan kemauan Mbah Kholil Harun untukmenuntut ilmu dari keduanya dan juga kiai-kiai lain di Sarang, diantaranya Kiai Murtadlo bin Muntaha.  

Pada waktu beranjak remaja, Kiai Kholil sempat ikut dengan kakaknya Kiai Fadlil di Pesantren Tambakboyo. Kiai Kholil lalu melanjutkan mencari ilmu ke Bangkalan Madura, berguru kepada Wali Jaman itu yakni Kyai Kholil bin Abdul Lathif, Bangkalan.

Pada usia 17 tahun, Kiai Kholil berangkat ke Haramain sebagaimana kaprahnya santri-santri pada masa itu untuk melaksanakan ibadah haji, sekaligus berguru kepada ulama' di Makkah. Pada masa itu, Kiai Kholil sudah dikenal sebagai pemuda yang tinggi ilmunya(alim)dan sering melakukan riyadlah.

Pada 1892, Kiai Kholil sampai di Mekkah. Beliau mengajikepada Kyai Machfudl Termas yang ketika itu berusia 25 tahun. Mekkah saat itu sedang dalam masa keemasaan ulama' dari Nusantara. Kiai Kholil belajar juga kepada Syeikh Bakri Syaththo, Syeikh Nawawi Al-Bantani, Syeikh Khatib Al-Minangkabawi, dan ulama'-ulama' lain yang sezaman. Beliau belajar di Masjidil Haram selama delapan tahun.

Pada 1900, Kiai Kholil pulang ke Sarang dan diambil menantu oleh gurunya, Kiai Murtadlo bin Muntaha. Pernikahan ini tidak bertahan lama. Istri beliau meninggal dunia. Hari-hari Beliau di Sarang diisi dengan mengajar dan belajar tanpa melupakan riyadlah mendekat kepada Allah. Pada 1901, Kiai Kholil menjadi hakim di Hofd voor Islamietische Zaken (Pengadilan Agama Hindia Belanda) berkantor di Rembang. "Karena tugas inilah, beliau lalu bermukim di Rembang. Kiai Kholil menikah lagi dengan Nyai Sukatmi binti Haji Nur Hadi Kasingan. Kegiatan belajar mengajar beliau lanjutkan dengan mendirikan Pesantren Kasingan. Pesantren ini pada puncakkejayaannya, pernah memiliki 2.000 santri dari berbagai daerah di Indonesia," ujarnya.

Santri-santri Kiai Kholil banyak yang melanjutkan perjuangannya, menjadi kiai dan mengasuh pesantren. Di antara santri-santrinya adalah K Dasuki Solo, K Abdul Hamid Kendal, K Turaichan Ajhuri Kudus, K Abdul Jalil Kudus, K F Basuni Rembang, K Abdul Hamid bin Abdullah Pasuruan, K Sanusi Banyuwangi, K Masduqi Banyuwangi, K Badri Pasuruan, K Abdusy Syakur Bangil, K Kholil bin Abi Hasan Bangil, K Machrus bin Ali Lirboyo Kediri, K Murodi Nganjuk, K Fathurrahman Padangan, K Abdul Malik Blora, K Faozan Jepara, K Baidlowi Rembang, K Husain Jenu Tuban, K Utsman bin Ma'shum Al-Makki, K Abdurrasyid Jepara, K Abdusy Syakur Kudus, K Abdul Majid PAsuruan, K Ma'shum Cirebon, K Masruhan Semarang, K Taslim Demak, K Sholih Tuban, K Chamzawi Rembang, K Abdullah Zaini Demak, K Bisri Mustofa, K Misbah Tuban dan lain-lain.

Pernikahan Kiai Kholil dengan Nyai Sukatmi dikaruniai dengan empat orang putri dan dua orang putra yakni Nyai Fatimah (istri KH Chamzawi Rembang), Nyai Shofiyati (istri KH Abdullah Zaini Demak), Rofi'i (meninggal sewaktu kecil), Kiai Ahmad Suyuthi Kholil Tasikagung (Mbah Ndloh), Nyai Sa'diyah (istri KH Sholeh, Makam Agung Tuban), dan Nyai Ma'rufah (istri KH Bisri Mustofa).

Pada 1925, Nyai Sukatmi meninggal dunia. Kemudian Kiai Kholil lalu menikah lagi dengan Nyai Syafi'ah. Melahirkan dua orang putri dan seorang putra yakni KH Ma'moen Kholil (Nyai Fatimah), Nyai Ma'munatun (Kyai Asrori Magelang), Nyai Shofwah (Kyai Masyruf Mas'ad).

Kiai Kholil Harun sakit ringan pada tahun 1939. Sakit ringan ini berakhir dengan wafatnya Beliau pada hari Senin, 2 Rabi'uts Tsani 1358 H bertepatan dengan 21 Mei 1939 M. Beliau dimakamkan di Makam Kabongan Kidul dekat dengan pesantren Beliau yakni Pesantren Kasingan Rembang.

Kiai Kholil dikenalsebagaiImam Sibawaihnya Jawa. Ini Karena kepakaran beliau di bidang ilmu-ilmu alat (ilmu bahasa arab). Alfiyah ibn Malik, salah satu kitab nahwu yang wajib dihafal dan dikuasai oleh para santri. Murid-murid Kiai Kholil yang memiliki pesantren juga menjadikan Alfiyah ibn Malik sebagai kitab wajib yang dikaji, sebagai salah satu kekhususan dan keunggulan dari pesantren tersebut.

Penulis adalah Pengasuh Pesantren Raudhatut Thalibin Leteh Rembang


(Red/CN40/SM Network)