• KANAL BERITA

FSS Temanggung Kurang Greget, Bupati Al Khadziq Geram

Pegiat Seni dan Budaya di Temanggung, Andi Yus Nugroho memberikan komentarnya saat pertemuan dengan sejumlah stakeholders dan awak media di Rumah Makan Kampung Sawah Temanggung, kemarin.(suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)
Pegiat Seni dan Budaya di Temanggung, Andi Yus Nugroho memberikan komentarnya saat pertemuan dengan sejumlah stakeholders dan awak media di Rumah Makan Kampung Sawah Temanggung, kemarin.(suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)

TEMANGGUNG, suaramerdeka.com - Gelaran akbar Festival Sindoro Sumbing (FSS) di Kabupaten Temanggung yang menyedot anggaran sekitar Rp 1,3 miliar, dinilai kurang greget dan bergaung di masyarakat. Bahkan, Pegiat Seni dan Budaya di Temanggung, Andi Yus Nugroho mengungkapkan, Bupati Temanggung, Muhammad Al Khadziq cukup geram ketika gelaran kebudayaan sebesar FSS tersebut, tak menampakkan greget dan gaungnya di tengah-tengah masyarakat.

Hal itu disampaikan Andi Yus yang juga merupakan orang dekat Bupati Al Khadziq saat melakukan pertemuan dengan Kepala Bagian Humas Pemkab Temanggung, Witarso Saptono Putro bersama Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Temanggung, Woro Andijani, Direktur FSS 2019 Temanggung, Imam Abdul Rofiq serta sejumlah stakeholders lain,  beserta awak media di Rumah Makan Kampung Sawah Temanggung, kemarin.

Menurut dia, gelaran kebudayaan dapat sukses ketika tercipta kolaborasi yang bagus antar stakeholder yang ada.

Namun, jika agenda besar tidak digarap dan didukung secara bersama-sama oleh elemen lain, maka tak salah agenda bisa menjadi kurang greget dan menjangkau masyarakat luas.

"Bagaimana jadinya bila gelaran kebudayaan tak melibatkan budayawan. Di sisi lain, mungkin kita alpa, stakeholder yang harusnya dilibatkan tapi tak disentuh. Termasuk di antarnya media," beber dia.

Sementara itu, Kepala Disbudpar Temanggung, Woro Andijani mengungkapkan, FSS merupakan bagian dari gelaran platform Indonesiana, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia, yang digarap secara kolaboratif, antara Pemerintah Kabupaten Temanggung dengan Pemerintah Kabupaten Wonosobo. Namun kegiatan ini harus dilaksanakan oleh komunitas. Sementara, dinas hanya sebagai fasilitator dan penanggungjawab kegiatan.

Dia menyebutkan, total anggaran penyelenggaraan rangkaian kegiatan FSS 2019 ini mencapai lebih dari Rp 1,3 miliar. Masing-masing anggaran dari Pemerintah Pusat melalui Kemendikbud RI sebesar Rp 650 juta dan dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Temanggung juga mencapai Rp 650 juta.

Gelaran FSS di Temanggung, rangkaian acara sudah dimulai sejak tanggal 9 Juni lalu. Untuk puncak kegiatan, nantinya akan digelar Java International Folklore (Jifolk) di Alun-alun Kota Tembakau, Jumat-Minggu (12-14/7).

Pihaknya mengakui, pelaksana rangkaian FSS di Temanggung merupakan anak-anak muda yang masih hijau dan minim pengalaman. Sejatinya, panitia pelaksana merupakan sekumpulan anak-anak muda yang punya etos kerja bagus dan juga kreatif.

"Namun, mereka memang belum cukup berpengalaman mengelola event berskala nasional seperti ini. Karena sesuai instruksi kegiatan dilakukan oleh komunitas, jadi komunitas anak muda ini yang kami pasrahi," tutur dia.

Senada, Direktur FSS Temanggung, Imam Abdul Rofiq, mengakui pelaksana yang berjumlah 35 orang belum expert (ahli) dalam bidang kebudayaan. Apalagi dalam hal pendanaan, dana bisa turun saat pelaksanaan atau setelah pelaksanaan. Padahal, dia mengaku sebagai komunitas tentu tidak memiliki uang sebesar itu untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan dalam rangkaian FSS tersebut. 

"Kami masih dalam taraf belajar untuk penyelenggaraan (acara kebudayaan), kami memang masih minim pengalaman untuk itu," akunya. 


(M Abdul Rohman/CN42/SM Network)