• KANAL BERITA

Kejari Temanggung Ekstra Hati-hati Tangani Kasus BKK Pringsurat

Selalu Berkonsultasi Jika Tetapkan Tersangka

Kepala Kejaksaan Negeri Temanggung, Fransisca Juwariyah. (suaramerdeka.com/M abdul Rohman)
Kepala Kejaksaan Negeri Temanggung, Fransisca Juwariyah. (suaramerdeka.com/M abdul Rohman)

TEMANGGUNG, suaramerdeka.com - Kejaksaan Negeri Temanggung mengaku harus ekstra hati-hati untuk menentukan langkah-langkah yang harus ditempuh, dalam penegakan hukum kasus tindak pidana korupsi PD BKK Pringsurat. Kepala Kejaksaan Negeri Temanggung Fransisca Juwariyah mengungkapkan, kasus mega korupsi yang merugikan uang negara senilai lebih dari Rp 114 miliar‎ cukup menguras pikirannya.

“Kami memang harus ekstra hati-hati dalam menangani kasus ini, kalau sampai salah sedikit saya yang justru bisa kena getahnya. Untuk penanganan kasus ini, kami saat ini hanya fokus untuk menyelesaikan masalah pidananya saja," ungkap Fransisca kepada awak media.

Dia menyatakan, jika semua masalah di BKK Pringsurat harus ditanganinya, tentu akan membutuhkan waktu yang panjang menyelesaikannya.

Utamanya, kata dia, dalam hal penyelesaian administrasi dan aset-aset yang menjadi agunan kredit macet BKK Pringsurat, yang dikucurkan tidak sesuai dengan prosedur yang ditetapkan, milik ratusan nasabah (debitur‎) dan kini telah di sita oleh kejaksaan.

"Untuk menyelesaikan itu semua tentu butuh waktu lama, bahkan sampai saya pensiun masalah itu sudah bisa selesai atau tidak kita belum tahu,” beber dia.

Lebih lanjut dia menyebutkan, dalam pengembangan kasus mega korupsi jilid dua, setelah dua mantan Direksi BKK Pringsurat yakni Suharno dan Riyanto di vonis 11 tahun penjara, pihaknya harus betul-betul jeli dalam menentukan langkah. Untuk menetapkan tersangka baru, setelah diterbitkannya enam surat perintah penyidikan (Sprindik), pihaknya pun harus selalu berkonsultasi dahulu dengan pimpinan di atasnya.

“Untuk menetapkan tersangaka tidak mudah harus hati-hati, bahkan kami juga harus selalu berkoordinasi dengan pimpinan. Kalau tidak gitu, nanti kalau ada yang lepas satu, saya bisa di gantung,” bebernya.

Selain itu, pihaknya juga mengaku sedang melakukan proses banding atas putusan hakim Pengadilan Tipikor Semarang yang menjatuhi hukuman 11 tahun penjara dan denda sebesar Rp 200 juta subsider tiga bulan penjara kepada Suharno dan Riyanto.

Di samping itu, Suharno juga dijatuhi pidana membayarkan uang pe‎ngganti kerugian negara senilai Rp 1,2 miliar. Sementara, Riyanto harus membayarkan uang pengganti senilai Rp 745 juta.

“Alasan kami mengajukan banding karena uang penggantinya terlalu rendah tidak sebanding dengan kerugian negara. Minimal samalah dengan tuntutan jaksa,” ungkapnya.

Namun demikian, pihaknya mengaku cukup lega dengan putusan hakim, yang menjatuhi hukuman badan selama 11 tahun penjara yang dianggap tidak jauh dari tuntutan jaksa yakni 16 tahun penjara.

“Hukuman badan saya rasa sudah cukup, dari tuntutan 16 tahun, tapi putus 11 tahun itu sudah cukup. Tapi untuk uang penggantinya yang tetap akan kami lakukan banding,” tandas dia. 


(M Abdul Rohman/CN42/SM Network)