• KANAL BERITA

Luas Lahan Kritis Mangrove Turun

Foto: suaramerdeka.com/Dok
Foto: suaramerdeka.com/Dok

JAKARTA, suaramerdeka.com - Upaya untuk merehabilitasi luas lahan kritis Mangrove terus dilakukan oleh pemerontah, dan telah menunjukkan hasilnya. Dari 1,82 juta hektar lahan kritis Mangrove, berhasil diturunkan menjadi 1,19 juta hektar. 

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menyatakan banyak yang sudah dilakukan pemerintah soal pengelolaan mangrove dan hutan pantai. Termasuk diantaranya adalah telah melakukan rehabilitasi mangrove seluas 31.673 ha melalui dana APBN. 

"Rehabilitasi mangrove memanfaatkan APBN akan terus dilakukan seluas 2.000 ha setiap tahun," kata Menteri saat penanaman mangrove dalam rangka Gerakan Nasional Peduli Mangrove, Pemulihan Daerah Aliran Sungai dan Kampung Hijau Sejahtera di Kota Manado, Sulawesi Utara, Selasa (9/7). 

Gerakan penanaman tersebut diinisiasi dan disiapkan oleh Organisasi Aksi Solidaritas Era (OASE) Kabinet Kerja. Keterlibatan berbagai pihak seperti OASE Kabinet Kerja, pemerintah daerah, LSM, BUMN dan swasta, mendukung keberhasilan rehabilitasi mangrove. 

Ibu Negara Iriana Joko Widodo memang dipandang memiliki kepedulian besar terhadap kelestarian mangrove. Bahkan saat mendampingi Presiden Joko Widodo di pertemuan G20 di Jepang, Ibu Negara secara khusus menceritakan kegiatan pelestarian mangrove kepada istri-istri pemimpin negara anggota G20. 

Menindaklanjuti langkah ibu negara ini, Menteri Siti Nurbaya menegaskan upayanya dalam mengintensifkan penanganan mangrove sebagai salah satu ekosistem yang memiliki potensi cadangan karbon yang sangat besar, terutama di tanahnya. 

Pihaknya juga telah berbicara secara khusus dengan Menteri Lingkungan dan Iklim Norwegia, Ola Elvestuen, di Throndheim terkait pengelolaan mangrove, setelah langkah Ibu Negara Iriana berbicara di KTT G-20 pertengahan Juni lalu di Osaka. Menteri LHK juga telah membahas hal ini dengan Menteri-Menteri Lingkungan Hidup Inggris, Jerman dan Australia.

Menurut Siti, mangrove memiliki manfaat untuk melindungi erosi dan abrasi dan menjadi tempat berkembang biaknya fauna dan biota laut. Mangrove juga menjadi sumber pendapatan masyarakat melalui pemanfaatan ekowisata, hasil hutan non kayu, dan silvofishery. 

Selain itu, sambung dia, mangrove efektif untuk menahan gelombang tsunami. Hasil penelitian menyatakan tanaman mangrove selebar 100 meter dengan ketinggian akar 30 centimeter sampai 1 meter dapat mereduksi besarnya gelombang tsunami hingga 90%. Mangrove juga memiliki kemampuan menyerap emisi gas rumah kaca (GRK) 5 kali lebih baik dari tanaman hutan lainnya. Terkait hal ini, Menteri menyatakan sudah mengundang Negara-negara sahabat melihat hutan mangrove di Indonesia sebagai bagian dari pengendalian perubahan iklim global. 

Berdasarkan hasil penyusunan One Map Mangrove Nasional sampai dengan tahun 2018, luas mangrove di Indonesia saat ini 3,79 juta ha dan menjadi yang terluas di dunia. 

Sementara itu Ketua bidang V OASE Kabinet Kerja Rugaya Usman Wiranto menuturkan, kegiatan penanaman mangrove oleh OASE Kabinet Kerja merupakan inisiatif yang didorong oleh Ibu Iriana Joko Widodo. Kegiatan itu juga disertai dengan pemberian alat biopori dan pengolah kompos. 

Penanaman juga dilakukan secara serentak di 12 Propinsi dengan jumlah bibit ditanam sebanyak 60 ribu batang. "Kami mendukung aktivitas demi kemaslahatan masyarakat Indonesia," katanya.

Turut hadir saat penanaman, Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey, para pejabat Provinsi Sulawesi Utara dan Kota Manado serta ratusan masyarakat yang antusias terlibat dalam penanaman mangrove.


(Satrio Wicaksono/CN39/SM Network)