• KANAL BERITA

Gapatara Jembatani Industri Pariwisata dengan Pemerintah

PENJELASAN: Ketua Gapatara, Sunardy dan ketua panitia, Henri Marindra memberi penjelasan pada wartawan usai acara halalbihalal paguyuban tersebut di Solo. (suaramerdeka.com / Langgeng Widodo)
PENJELASAN: Ketua Gapatara, Sunardy dan ketua panitia, Henri Marindra memberi penjelasan pada wartawan usai acara halalbihalal paguyuban tersebut di Solo. (suaramerdeka.com / Langgeng Widodo)

SOLO, suaramerdeka.com - Gabungan Paguyuban Travel Agent Nusantara (Gapatara) bakal memprioritaskan kekompakan pengurus dan anggota. Tidak kalah penting, kata ketua Gapatara Sunardy, paguyuban itu akan menjembatani travel agent (biro perjalanan) di daerah dengan pemda dan industri pariwisata setempat. Jika muncul masalah, pihaknya mengedepankan negosiasi secara bijak. Dikatakan, target ke depan dunia pariwisata nasional maupun daerah makmur dan maju bersama.

Menurut dia, orientasi Gapatara adalah pasar domestik, tapi tidak menutup kemungkinan juga pasar asing. Setiap tahun, kata dia, selalu ada event table top yang digelar paguyuban di berbagai daerah untuk menggaet wisatawan. Di Soloraya, misalnya, ada table top di mana setelah itu para peserta atau travel agent dari berbagai daerah diajak keliling destinasi wisata.

Mereka kemudian diminta mempromosikan destinasi wisata yang telah dikunjungi, setelah pulang. Permasalahan yang muncul, kata Sunardy, kadang ada industri pariwisata menaikkan retribusi tanpa memberi tahu travel agent, jauh hari sebelumnya. Padahal, biasanya kesepakatan kerja sama dengan instansi terutama sekolah-sekolah, biasanya dilakukan tiga atau enam bulan sebelumnya.

Kalau harga naik berarti travel agent harus nombok. Namun ia mengatakan, bila objek wisata milik pemerintah atau BUMN, dari kerja sama yang dilakukan, travel agent tidak merugi. Harapannya, semua bisa dikordinasikan. Lebih lanjut Sunardy mengatakan, Kota Jogja, Candi Borobudur, dan Prambanan masih menjadi kunjungan utama bagi wisatawan, baik asing maupun domestik.

Namun dia berharap, nantinya banyak tercipta destinasi baru. Misal di Solo yang dikenal sebagai kota budaya, budaya itu bisa dikolaborasikan dan dijadikan event malam, seperti pentas Ramayana Ballet di Jogja. Dengan adanya banyak agenda event yang digelar secara rutin, pihaknya yakin akan banyak wisatawan berkunjung. Ia juga mengatakan, Kota Solo seninya tinggi.

Dari situ, misalnya, juga bisa diadakan beberapa event atau festival. Seperti festival gamelan, seperti di Bali ada Tari Barong. Menurut dia, Kota Solo sangat diuntungkan adanya jalan tol dengan empat jalur exit tol. Karena adanya jalan tol dengan empat jalur exit tol itu, banyak wisatawan domestik ke Solo. Di Solo, wisatawan bisa ke belanja batik di Pasar Klewer, wisata budaya keraton, maupun menikmati kuliner di berbagai tempat.

Ia mengatakan, Solo itu penuh liburan. Belakangan, banyak wisatawan yang semula berkunjung ke Jogja maupun kota lain  kemudian berbelok ke Solo, sehingga, kunjungan wisatanya meningkat. Untuk keberlanjutan, kata dia, tinggal bagaimana stakeholder yang ada berbenah, bagaimana membangun Kota Solo yang berbudaya.

"Kita bisa belajar dari luar negeri dalam konsep bisnis pariwisata. Seperti di Tiongkok, destinasi milik pemerintah, tapi wisatawan penuh. Banyak mal
juga penuh wisatawan, terutamal malbesar. Di situ, promosi yang dilakukan antara lain melalui presentasi produk dan mrmberi contoh produk," kata dia usai halalbihalal bersama pengurus Gapatara dan pelaku bisnis pariwisata di Solo.


(Langgeng Widodo/CN26/SM Network)