• KANAL BERITA

Kembangkan Pariwisata, Dimensinya Tak Bisa Pas-pasan

Gubernur Jabar, Ridwan Kamil mencontohkan pose instagramable di sela-sela kunjungannya ke Waduk Jatiluhur Kabupaten Purwakarta, Rabu (19/6). (Foto suaramerdeka.com/Setiady Dwi)
Gubernur Jabar, Ridwan Kamil mencontohkan pose instagramable di sela-sela kunjungannya ke Waduk Jatiluhur Kabupaten Purwakarta, Rabu (19/6). (Foto suaramerdeka.com/Setiady Dwi)

BANDUNG, suaramerdeka.com - Pemprov Jabar terus menggenjot sektor pariwisata termasuk dalam mengoptimalkan potensi perairan waduk yang banyak tersebar di wilayah tersebut. Salah satunya Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta.

Menurut Gubernur Jabar, Ridwan Kamil, potensi perairan waduk jarang dipahami secara meluas. Banyak yang terfokus pada fungsi sebatas kepentingan irigasi, pemenuhan kebutuhan air minum, hingga perikanan. 

"Kemudian ada potensi pariwisata plus dilengkapi potensi budaya. Harusnya semuanya bisa tersentuh. Hanya saja, pariwisata ini belum maksimal dikembangkan. Padahal efeknya ke pertumbuhan ekonomi signifikan, kenaikannya bisa sampai 5 kali lipat," jelasnya kepada wartawan saat menyambangi Waduk Jatiluhur, Rabu (19/6).

Dia tak menampik adanya tantangan yang harus ditaklukan. Di antaranya perspektif yang lebih luas dalam memetakan persoalan. Khusus pariwisata, RK menyebutnya perlu sentuhan pemikiran yang tak biasa dalam langkah pengembangannya.

"Seperti Jatiluhur, ini kan lahannya begitu luas (8.300 ha), untuk mengembangkan potensi pariwisatanya, perlu visi baru dalam merumuskannya, dan dimensi yang tak boleh pas-pasan, apalagi ini pariwisata," jelasnya.

Di antaranya penajaman segmen guna menarik tingkat kunjungan. Sepanjang pengamatannya, kecuali Bali, pengelola objek wisata di daerah belum berani melakukan terobosan semacam itu. Dengan pemilahan segmen, jelasnya, merupakan salah satu kunci pengembangan.

"Kan bisa disegmentasi untuk kalangan menengah ke atas, yang belum banyak dilakukan bisa dengan mengundang investor, di samping tetap mengoptimalkan tingkat kunjungan dari kalangan menengah ke bawah," jelasnya.

Inisiatif lainnya adalah keberanian melakukan penataan terhadap keberadaan objek wisata termasuk pedagang kaki lima (PKL) yang kerap meramaikan suasana sehingga arah pengembangannya menjadi lebih terarah.

"PKL merupakan tanda objek wisata menggeliat, tapi tugas kita adalah dengan menatanya, kalau tidak, mereka akan memakai logikanya sendiri, untuk itu diperlukan pengaturan, karena pasar turis di manapun itu diatur, ada zonasinya sehingga bisa dikembangkan," kata mantan Walikota Bandung itu.


(Setiady Dwi/CN19/SM Network)