• KANAL BERITA

Terungkap, Aktivis LGBT Tewas Usai Kencan

 Jermiah Kliwon, tersangka pembunuhan dibawa personel Propam Polres Klaten ke Sat Reskrim, Selasa (18/6).(suaramerdeka.comAchmad Hussain)
Jermiah Kliwon, tersangka pembunuhan dibawa personel Propam Polres Klaten ke Sat Reskrim, Selasa (18/6).(suaramerdeka.comAchmad Hussain)

KLATEN, suaramerdeka.com - Sat Reskrim Polres Klaten berhasil mengungkap kasus tewasnya Hendro Febriyanto alias Gendro (54), warga Dusun Krapyak Lor, Desa Pakahan, Kecamatan Jogonalan. Aktivis komunitas lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) itu diduga tewas di tangan teman kencannya, Jeremiah Kliwon Sianipar (20).

Kapolres Klaten AKBP Aries Andi melalui Wakapolres Kompol Moh Zuklfikar Iskandar menjelaskan kasus pembunuhan terungkap bermula dari temuan jenazah korban di rumahnya pada Jumat (7/6).

Saat ditemukan kondisi korban sudah membusuk dalam kondisi kaki terikat tali dan luka para pada bagian leher. Sementara sepeda motor, ponsel dan perhiasan milik korban lenyap.

'' Ditemukan juga ada luka pada leher,'' kata Wakapolres, Selasa (18/6). 

Dari kasus temuan mayat itu, Polsek dan Polres menggelar oleh kejadian perkara (TKP) dan meminta keterangan sejumlah saksi. Dari keterangan dan alat bukti, Sat Reskrim menemukan nama pelaku yang berlamat di Dusun Sibatu-Baru, Desa Marlumba, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara.

Dari pelacakan, tersangka ternyata sudah berada di Yogyakarta beberapa lama. Korban dan tersangka ternyata satu komunitas LGBT di Yogyakarta. Mendapati keterangan itu, tim bergerak ke rumah singgah komunitas LGBT tersebut. Namun pelaku sudah kabur beberapa hari sebelumnya.

Polisi pun malacak sampai ke Jakarta dan pelaku bisa dibekuk di wilayah Jakarta Pusat.

Menurut Wakapolres pembunuhan itu dilatarbelakangi kejengkelan pelaku kepada korban. Mulanya pada 5 Juni, pelaku dan korban bertemu di rumah singgah LGBT. Setelah itu keduanya pergi ke rumah korban. Pukul 23.00 saat keduanya menonton televisi, korban mengajak pelaku berhubungan badan.

Namun pelaku menolak tetapi korban memaksa dengan menarik celananya. Jengkel diperlakukan kasar, tersangka langsung mengambil pisau di meja dan disabetkan ke leher korban. Korban yang tersungkur kemudian dianiaya, diikat dan ditinggal pergi. Pelaku membawa harta korban dan sepeda motornya.

Tiga hari setelah kejajian, korban ditemukan tewas oleh warga sekitar. Dari penyidikan kasus itu hanya melibatkan satu pelaku. Tidak ditemukan unsur perencanaan sehingga dijerat pasal 338 jo 351 KUHP dengan ancaman penjara maksimal 15 tahun penjara.

Polisi mengamankan barang bukti pisau dapur, sepeda motor, ponsel, handuk, perhiasan, dan sarung bantal. Tersangka saat ditanya mengakui perbuatannya. Dirinya nekat menghabisi korban sebab jengkel.

'' Saya tusuk cuma sekali,'' katanya.

Tersangka mengaku mengenal korban baru sekitar dua pekan saat di rumah singgah.


(Achmad Hussain/CN42/SM Network)