• KANAL BERITA

Rusun Pekunden Milik Pribadi Bukan Sewa

Mayoritas Dulu Penghuninya Warga Pekunden Utara

Jalan yang berada di sekitar bangunan Rusun Pekunden sering dilintasi para pengendara motor yang hendak menuju pusat kota Semarang. (suaramerdeka.com/Mohammad Khabib Zamzami)
Jalan yang berada di sekitar bangunan Rusun Pekunden sering dilintasi para pengendara motor yang hendak menuju pusat kota Semarang. (suaramerdeka.com/Mohammad Khabib Zamzami)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Mayoritas penghuni Rumah Susun (Rusun) dulunya merupakan warga Pekunden Utara. Bagi warga luar Pekunden yang belum tahu pasti mengira bahwa Rusun Pekunden merupakan rusun yang disewakan. Padahal, penghuni rusun yang terdiri dari lima blok dengan lima lantai itu menyandang status sabagai pemilik unit.

Rusun Pekunden sendiri merupakan rusun pertama yang ada di Kota Semarang. Rusun yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 24 Oktober 1992 itu terletak di punggung kompleks Balai Kota Semarang. Di seberang Kali Semarang itulah sebelumnya sebuah kawasan bernama Pekunden. Rusun ini dibangun untuk penyediaan ruang terbuka hijau di tengah jantung Ibu Kota Jawa Tengah itu.
 
Dulu, perkampungan Pekunden Utara yang terletak di belakang kompleks Balai Kota yang digolongkan sebagai Slum Area atau kawasan pemukiman kumuh. Kemudian, sekitar tahun 1991, Pemkot Semarang saat itu mandat dari Presiden Soeharto untuk membangun Rusun di Jawa Tengah.

"Waktu itu sudah ada penduduknya di sini. Awalnya, rencana dari Presiden di sekitar kawasan ini semuanya akan dijadikan Rusun seperti Pekunden, Veteran dan lain-lain. Namun, akhirnya hanya Pekunden saja yang dijadikan rusun," tutur Wakil Ketua Paguyuban Rusun Pekunden, Tri Aprianto Adhi Wardono yang menempati Blok A2 No 4, Senin (17/6).

Rusun itu dibangun, karena letak perkampungan Pekunden yang berada di tengah kota. Tujuannya yakni untuk menghindari kepadatan penduduk sehingga rumah penduduk lebih teratur dan rapi tidak terkesan kumuh.

Adhi bercerita, Ayahnya yang bernama Soekisman kemudian membentuk Paguyuban untuk mengelola penghuni rusun. Setiap warga dipungut biaya bulanan untuk pemeliharaan bangunan rusun.

Di rusun tersebut, kata dia, terdapat tiga tipe, yakni tipe 21, tipe 54 dan tipe 81 di lantai bawah terdapat pasar, aula, tempat usaha, rumah pintar dan tempat parkir. Di tempat ini rata-rata merupakan pemilik unit namun di lantai empat sebagian disewakan dengan biaya sewa sekitar Rp 60 ribu/bulan belum termasuk listrik dan air.

"Kalau lantai 1-3 penduduk asli semua. Sedangkan lantai atas sebagian disewakan. Tapi banyak juga yang dijual," lanjut dia.

Dikatakannya, jual beli unit rusun sebenarnya tidak diperbolehkan. Namun, warga yang yang menjual mengaku tidak punya pilihan lain karena unit tersebut hingga kini tidak kunjung ada sertifikat kepemilikan yang jelas.

Mereka hanya memiliki surat keterangan dari Wali kota saja. Lebih lanjut, Adhi berharap pemkot dapat memperhatikan mereka dengan segera mungkin menerbitkan sertifikat kepemilikan rusun.

Atau mungkin rusun tersbut dibuat sistem sewa semua. Sehingga, biaya perawatan ditanggung Pemkot.  Selama 29 tahun, penghasilan rata-rata antara 2,5 juta ke bawah.

Salah satu penghuni rusun yang menempati Blok C2 No 13 Rusun Pekunden, Agus Waluyo mengaku telah menampati rusun tersebut sejak puluhan tahun silam. Kakeknya dulu merupakan orang pertama yang membangun rumah di kawasan tersebut.

"Kami punya rumah yang besar dan luas. Tapi, setelah dibangun rusun menjadi lebih sempit," keluh dia.

Dia mengatakan, penduduk asli memang diberi kompensasi dengan tidak dipungut biaya sewa. Namun, ruangannya kini menjadi lebih sempit hanya muat untuk dua kamar tidur dan satu kamar mandi.

Ketika ditanya soal fasilitas seperti listrik memang tidak ada masalah. Akan tetapi, setahun terakhir ini air di rusun tersebut tidak lancar. Sehingga harus turun ke lantai bawah untuk menimba di sumur.


(Mohammad Khabib Zamzami/CN40/SM Network)