• KANAL BERITA

Seabad SDN 1 Sale, eks-Vervolgschool di Masa Penjajahan

Para perwakilan alumni SDN 1 Sale melakukan ziarah ke makam sejumlah guru dan sesepuh sekolah di momen peringatan seratus tahun berdirinya sekolah bersejarah tersebut.(suaramerdeka.com/Ilyas al-Musthofa)
Para perwakilan alumni SDN 1 Sale melakukan ziarah ke makam sejumlah guru dan sesepuh sekolah di momen peringatan seratus tahun berdirinya sekolah bersejarah tersebut.(suaramerdeka.com/Ilyas al-Musthofa)

REMBANG, suaramerdeka.com – Dari sekian banyak sekolah yang ada, salah satu sekolah tingkat dasar bersejarah di Rembang adalah SDN 1 Sale. Sekolah yang dulunya merupakan Vervolgschool (sekolah sambungan di masa penjajahan) menyimpan banyak kisah tentang pendidikan di awal masa kemerdekaan.

Sekolah yang dulu juga merupakan Sekolah Rakyat (SR) tersebut itu terletak di kawasan perbatasan Rembang-Tuban, tepatnya di Desa/Kecamatan Sale. Juni ini, merupakan momen seratus tahun berdirinya sekolah tersebut.

Sejumlah kegiatan digelar oleh para alumni. Hebatnya, para alumni yang hadir dan berpartisipasi terdiri dari berbagai angkatan yang berbeda. Ada angkatan 1955 hingga tahun-tahun belakangan hadir dalam acara puncak yang dihadiri oleh Bupati Rembang, Abdul Hafidz, Sabtu (15/6) kemarin.

Sebagai sekolah tua, SDN 1 Sale sudah banyak menelurkan alumni yang berkarya dalam berbagai berbeda. Ada alumni yang saat ini menjadi Ketua Pengadilan Negeri (PN) Ketapang, Iwan Wardhana dan Prasetyono dosen Fakultas Ekonomi Undip Semarang. Satu lagi adalah mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Rembang, Sunarto.

Di puncak perayaan satu abad berdirinya sekolah, sejumlah kegiatan napak tilas dilakukan. Di antaranya adalah ziarah ke sejumlah makam sesepuh dan guru yang pernah mengabdi di SDN 1 Sale. Ziarah juga melibatkan para siswa yang saat ini masih aktif.

Alumni tahun 1955 dan Kepsek SDN 1 Sale di masa SR, Munadi mengatakan, besarnya riwayat sejarah di SDN 1 Sale seharusnya membuat banyak orang merawatnya. Sehingga, sebagai salah satu sekolah bersejarah yang pernah ada, SDN 1 Sale akan tetap eksis, bukan hanya untuk dikenang saja.

Munadi pun bercerita tentang sekilas pembelajaran di SDN 1 Sale di masa SR lalu. Ia menyebut, proses uri-uri kearifan lokal pada zaman itu dilakukan secara baik dan masif. Kondisi itu membuat budaya lokal dipegang teguh oleh masyarakat.

Sebagai contoh, Aksara Jawa yang setiap siswa dituntut untuk paham menulis dan membacanya. Hal itu ia sebut berbeda dengan pendidikan zaman sekarang. Pemahaman tentang Aksara Jawa siswa sekarang jauh berbeda dengan masa dulu.

“Suasana sekolah semacam ini harus dirawat. Sekolah ini punya riwayat yang menggembirakan. Banyak alumni sekolah ini yang sukses. Khususnya masyarakat Sale, harus meramut dan merawat,” ujarnya.

Eks Kepala Dinbudpar Rembang, Sunarto yang merupakan salah satu alumni sukses dari SDN 1 Sale mengatakan, selain ziarah ke makam guru, di momen seabad berdirinya sekolah juga digelar santunan untuk seratus keluarga kurang mampu di sekitar Sale. Para alumni rela merogoh kocek pribadi untuk bakti sosial itu.

Puncak acara dihadiri oleh lebih dari 250 alumni berbagai angkatan. Mereka yang kebetulan satu angkatan saling sungkem dan melepas kangen mengenang sekolah tua di Rembang itu.  Hadir memberikan sambutan adalah Bupati Abdul Hafidz. 


(Ilyas al-Musthofa/CN42/SM Network)