• KANAL BERITA

BPBD Prediksi Lima Kecamatan di Kulon Progo Berpotensi Kekeringan

Foto Istimewa
Foto Istimewa

KULON PROGO, suaramerdeka.com - Sejumlah wilayah Kulonprogo diprediksi berpotensi dilanda kekeringan, namun dari pengamatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kulon Progo kekeringan tidak akan separah tahun 2018. 

Kepala Pelaksana BPBD Kulon Progo, Ariadi, menjelaskan saluran air di Kecamatan Kalibawang tidak mengalami pengeringan seperti tahun lalu. Sehingga pasokan air di sumur-sumur resapan diprediksi jauh lebih aman. 

“Kalau untuk kemarau tahun ini mudah-mudahan tidak seberat tahun kemarin. Karena ini tidak ada pengeringan untuk saluran Kalibawang sehingga banyak mengurangi dampak kekurangan air bersih. Ini memang sudah memasuki musim kemarau dan sampai saat ini belum ada permohonan (dropping air) dari masyarakat,” ujar Ariadi saat dihubungi kumparan, Sabtu (15/6). 

BPBD Kulon Progo tetap melakukan antisipasi, meski belum ada permintaan air bersih. BPBD Kulon Progo memprediksi ada lima kecamatan yang berpotensi kekeringan, seperti Kecamatan Kokap, Girimulyo, Samigaluh, Kalibawang, dan Sentolo. 

“Sudah ada penurunan debit air di kecamatan-kecamatan itu tadi. Sumber air sudah mengalami penurunan debit air berkurang. Sekarang ngirit tapi belum butuh pasokan, masih cukup,” ungkapnya. 

Ariadi pun memastikan anggaran untuk dropping air mencukupi. Berkaca dari tahun lalu, total dropping air yang disalurkan mencapai 1.600 sampai 1.700 tangki dan menggunakan APBD sekitar Rp 125 juta. Dropping air juga sedikit terbantu dengan bantuan dari instansi dan komunitas. 

“Anggaran kita tinggal mengakses. Kalau tahun lalu itu kan sekitar semuanya 1.600-1.700 tangki itu. Tahun kemarin APBD sekitar Rp 125 juta karena memang dari masyarakat kemudian dari BUMN maupun BUMD, instansi dan komunitas banyak membantu. Itu nilai juga sekitar Rp 120 juta,” katanya. 

“Mudah-mudahan tidak sampai separah tahun kemarin,” timpalnya. 

Di sektor pertanian, sampai saat ini juga belum dilaporkan kendala yang berarti. Selain air dari Kalibawang yang masih lancar, petani juga menggunakan alat diesel untuk membantu pengairan. Meski begitu pihaknya tetap melakukan persiapan mengingat di bulan Juli hingga September puncak kemarau mulai tampak. 

“Kalau dari pemerintah kan selain dropping sebetulnya paling bagus dengan pemipaan, tapi kan itu bertahap dikerjakan PDAM. Nanti mudah-mudahan kalau sampai di Samigaluh, kemudian Gunungkucir yang di Banjarsari, dikerjakan selesai insyaallah sangat banyak mengurangi ketergantungan dengan dropping. Karena dropping untuk kedaruratan saja,” katanya. 

Tahun 2018, Pemkab Kulon Progo menetapkan status tanggap darurat penanganan bencana kekeringan. Ribuan KK yang tersebar di 23 desa dari delapan kecamatan terdampak kekeringan. 


(KMP/CN19/SM Network)