• KANAL BERITA

Fika Desta Sandratara, Tuna Netra Bantul yang Berhasil Lolos CPNS di Rembang

LOLOS CPNS : Fika Desa Sandratara (34), tunanetra asal Kabupaten Rembang berhasil lolos CPNS 2019, dan sudah menerima SK dari Kepala Kanwil Kemenag Jateng, akhir Mei lalu. (suaramerdeka.com / Ilyas al-Musthofa)
LOLOS CPNS : Fika Desa Sandratara (34), tunanetra asal Kabupaten Rembang berhasil lolos CPNS 2019, dan sudah menerima SK dari Kepala Kanwil Kemenag Jateng, akhir Mei lalu. (suaramerdeka.com / Ilyas al-Musthofa)

NASIB mujur benar-benar dialami Fika Desta Sandratara (34). Perempuan asal Kabupaten Rembang yang merupakan tuna netra tersebut berhasil lolos menjadi CPNS dalam tes tahun 2019.

Perempuan asli Poncosari Srandakan Bantul Yogyakarta itu bahkan sudah menerima SK CPNS dari Kepala Kanwil Kemenag Jateng, pada akhir Mei 2019 lalu. Keberhasilan Desta menjadi CPNS tidak diraih dengan mudah. Proses berliku dan berdarah-darah harus dilalui oleh alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.

Desta merupakan satu dari puluhan ribu CPNS yang berhasil mendapatkan SK CPNS. Ia berhasil meriah ruang pengabdian yang diimpikannya sejak kecil, yaitu sebagai guru Mapel Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di MIN 1 Rembang. Saat ditemui wartawan belum lama ini, perempuan kelahiran Desember 1986 ini mengatakan, sudah cukup sering mendapatkan perlakuan yang menjatuhkan mentalnya untuk mendapatkan pekerjaan layak dari orang-orang di sekitar.

Perlakuan tersebut tidak lantas membuatnya putus asa. Sebaliknya, hal itu justru membuatnya semakin tekun dalam mengejar impian untuk masa depannya. Beruntungnya, bapak dan ibunya selalu memberikan motivasi untuk terus menapaki pendidikan setinggi-tingginya. Harapannya, agar Desta yang merupakan satu-satunya anak perempuan di keluarganya itu memiliki bekal untuk mendapatkan hidup yang berkualitas layaknya orang pada umumnya, meskipun memiliki keterbatasan.

Kisahnya dimulai dari Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB). Di sekolah tersebut ia terus mengasah kemampaun di tengah keterbatasan yang dimilikinya. Sikap tak kenal menyerah itu yang pada akhirnya berhasil mengantarkannya melanjutkan hingga SMP dan SMA. Puncaknya adalah ia berhasil masuk menjadi salah satu mahasiswa Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Hingga akhirnya ia ikut tes CPNS dan ditempatkan di Rembang sebagia guru SKI untuk MIN.

Adaptasi

Sementara ini, sebelum benar-benar mulai mengabdi ia menjalani masa adaptasi dulu di Kantor Kemenag Rembang. “Sewaktu di SMP, saya tinggal di asrama khusus penyandang disabilitas. Namun saya sekolah di SMP, karena ingin mempunyai banyak teman,” ungkapnya.

Sebelumnya, perempuan satu anak ini sempat menimba pengalaman kerja di sebuah percetakan, yang memang mencetak produk khusus untuk komunitas tunanetra. Salah satu produknya adalah Alquran braille. Desta mengaku, kecanggihan teknologi mendorong dirinya semakin optimis dalam bekerja. Pasalnya, baik gagdet maupun laptop sudah tersedia aplikasi untuk kalangan tuna netra. Apalagi, selama ini orang tua selalu menanamkan dirinya untuk hidup mandiri.

“Saya bersama dengan sekitar 30 penyandang disabilitas lainnya bersama-sama mengikuti seleksi CPNS di Kementerian Agama (Kemenag) Jateng, dan bersyukur saya berhasil lolos,” ucapnya.

Ia optimistis, keterbatasan yang dimilikinya tidak akan menjadi penghalang untuk terus menebar manfaat bagi orang lain. Meskipun terkadang, di tengah perjalanan hidupnya, tak sedikit orang yang mencibirnya.

“Dengan insting mata hati, saya yakin tak ada bedanya saya dengan yang lain. Semua orang itu sama, ada yang baik yang yang buruk. Begitu juga kami yang tuna netra ini, tentu tidak semuanya baik, ada yang buruk juga. Sehingga tak ada beda. Hanya yang saya syukuri, dengan keterbatasan saya ini, Allah menjauhkan saya dari dosa mata,” tandas penghobi menulis ini.


(Ilyas al-Musthofa/CN26/SM Network)