• KANAL BERITA

16 Tahun Derita Stroke, Warga Gombong Tak Berdaya Saat Rumahnya Nyaris Ambruk

TIDAK LAYAK: Antonius Halim Sunarto (68) alias Cungking berada di kamar tidur rumahnya yang sudah tidak layak huni di Desa Wero, Kecamatan Gombong, Kebumen,  Kamis (13/6).
TIDAK LAYAK: Antonius Halim Sunarto (68) alias Cungking berada di kamar tidur rumahnya yang sudah tidak layak huni di Desa Wero, Kecamatan Gombong, Kebumen,  Kamis (13/6).

GOMBONG, suaramerdeka.com – Penyakit stroke yang diderita Antonius Halim Sunarto (60) membuat hidup keluarganya terpuruk. Bagaimana tidak,  menderita stroke selama 16 tahun membuat Cungking panggilan akrabnya, tak mampu menafkahi keluarganya.

Anak semata wayangnya Alex Eko Prasetyo (22) hanya mengenyam pendidikan sampai Sekolah Dasar (SD). Bahkan saat rumah tinggalnya nyaris ambruk, Cungking tak berdaya melakukan sesuatu. Jangankan untuk bekerja, berjalan saja dia masih kesusahan.

"Kemarin pas hujan, air masuk ke rumah semua, karena  atapnya memang sudah rusak," ujar Cungking saat ditemui Suara Merdeka di rumahnya, Kamis (13/6).

Sang istri Wati Wijaya (65) sehari-hari bekerja serabutan. Dia seringkali menemani sang adik yang harus cuci darah seminggu sekali. Dari itu, Wati mendapatkan sedikit uang lelah. Sementara sang anak, bekerja sebagai kernet pocokan angkutan pedesaan dengan penghasilannya tak pasti.

"Sering kali  saya hidup dari belas kasih dari tetangga," ujar Cungking dengan penuh penyesalan.

Ya, sebelum menderita stroke, Cungking membuka bengkel sepeda di rumahnya yang berada di pinggir Jalan Raya Yos Sudarso Gombong.  Sampai pada suatu pagi, saat bangun tidur dan hendak mengantar anaknya berangkat sekolah, tiba-tiba dia tidak bisa bangun dari tidur. Dia pun harus menerima kenyataan stroke melumpuhkan dirinya.

"Sejak saat itu, saya hanya bisa terbaring di tempat tidur," imbuhnya dengan mata nanar.

Usaha yang dijalani berhenti. Lambat laun tabungan miliknya ludes untuk pengobatan dan membiayai kehidupan sehari-hari. Pelan tapi pasti kemiskinan menjerat keluarganya. Celakanya, dia tidak masuk dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

"Saya hanya berobat di Puskesmas yang murah hanya Rp 10.000," ujarnya.

Memantik Perhatian

Saat ini, Cungking sudah bisa berjalan dengan bantuan tongkat. Namun demikian dia masih sulit bekerja karena tangannya belum bisa bergerak normal. Di sisi lain, hari demi hari rumahnya semakin rusak. Bagian belakang rumah bahkan atapnya sudah ambruk sehingga tidak bisa dihuni. Saat hujan, air masuk ke rumah. Saat seperti itu, dia hanya bisa pasrah.

Akhirnya dia bersama istrinya tidur di ruang tamu. Sebab kamar tidur sudah tidak bisa dihuni lagi. Sedangkan saat  istrinya  menunggui adiknya, dia hanya ditemani sang anak yang selama ini tidur menumpang di rumah tetangga.

Kondisi rumah Cungking tersebut memantik perhatian dari Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kebumen. Saat datang mensurvey rumah tersebut para pengurus PSMTI  tampak kaget melihat rumah yang benar-benar tidak layak dihuni oleh manusia. Akhirnya paguyuban  tersebut dibantu Pemerintah Desa Wero akan merehab rumah tersebut sampai layak huni.

"Ini ada bantuan dari pemerintah desa dan kami akan membantu penyelesaiannya, " ujar Ketua PSMTI Kebumen Bobyn Yap didampingi tokoh Tionghoa Sugeng Budiawan. 


(Supriyanto/CN34/SM Network)