• KANAL BERITA

Dengan Halal Bi Halal, Allah SWT Akan Mengampuni Dosa-dosa Kita

Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof Drs KH Yudian Wahyudi MA, PhD saat halal bi halal di gedung pertemuan kampus setempat. (Foto : suaramerdeka.com/Sugiarto)
Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof Drs KH Yudian Wahyudi MA, PhD saat halal bi halal di gedung pertemuan kampus setempat. (Foto : suaramerdeka.com/Sugiarto)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Prof Drs KH Yudian Wahyudi, MA, PhD mengatakan, umat muslim berpuasa ramadhan  karena taqwa. Oleh karena itu, Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya. 

Tetapi, lanjut dia, ada dosa-dosa umat muslim yang Allah SWT belum akan mengampuninya sebelum ada ungkapan saling memaafkan dengan iklas antara sesama manusia.

Prof Drs KH Yudian Wahyudi MA, PhD, mengatakan itu dihadapan para peserta syawalan dan pelepasan calon jamaah haji keluarga besar UIN Sunan Kalijaga di Gedung Prof Dr HM Amin Abdullah, kampus setempat, kemarin.

Oleh karena itu, lanjut Rektor UIN Sunan Kalijaga, usai melaksanakan ibadah puasa ramadhan dan shalat Idul Fitri, setiap komunitas umat muslim di Indonesia saling membentuk majelis halal bi halal. 

Hal itu dimaksudkan, agar sesama umat muslim bisa saling bertemu di majelis dan berikrar untuk saling memaafkan (halal bi halal).  

Untuk itu, momen halal bi halal menjadi momen paling tepat bagi umat muslim untuk membuka hati, saling memaafkan, sehingga hati menjadi bersih kembali tanpa kebencian antar sesama umat muslim.

Karena, menurut Yudia, terkadang membuka hati untuk saling memaafkan antar sesama muslim amatlah sulit dilakukan, tanpa membuka momen yang tepat seperti dalam majelis halal bi halal.

Oleh karena itu, budaya halal bi halal yang ada di negeri ini perlu terus dilestarikan. Yakinlah bahwa Allah SWT akan mengampuni setiap dosa antara sesama melalui halal bi halal. 

''Sehingga kita menjadi kembali fitri setelah 1 bulan melaksanakan ibadah puasa ramadhan dan halal bi halal, baik dosa-dosa kepada Allah SWT maupun dosa-dosa dengan sesama umat manusia,'' ujar Prof Yudian Wahyudi.

Lebih lanjut Prof Yudian Wahyudi menyampaikan, selain halal bi halal, umat muslim di Indonesia memiliki budaya syawalan. Menurut Prof Yudian Wahyudi, syawalan memiliki makna yang berbeda dengan halal bi halal. 

Syawalan bermakna pertanggungjawaban. Setiap muslim ditakdirkan untuk menjadi pemimpin. Untuk menjadi pemimpin seseorang harus memiliki ilmu, maka agar mampu menjadi pemimpin, umat muslim harus menuntut ilmu sepanjang hayatnya. 

Semua itu akan dituntut pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT. Dalam al Qur’an disebutkan kewajiban Iqro’ (bacalah). Maknanya, adalah kewajiban untuk menuntut ilmu. Untuk itu, momen Idul Fitri adalah waktu yang tepat untuk refleksi diri, apa yang telah dilakukan sebelumnya, terkait dengan kewajiban menuntut ilmu.  

Prof Yudian Wahyudi berharap, melalui majelis halal bi halal dan syawalan UIN Sunan Kalijaga kali ini, menjadi pemacu semangat saling menjalin hubungan baik untuk beramal saleh dan menuntut ilmu yang bermanfaat bagi lingkungan, bagi sesama dan bagi pengembangan kampus UIN Sunan Kalijaga, sebagai perwujudan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. 

Prof Yudian Wahyudi meyakini, dengan terus memelihara hati yang bersih, menjalin hubungan yang baik dengan sesama, melakukan amal kebaikan sekecil apapun dan bersemangat dalam menuntut ilmu sepanjang hayat akan membawa kebahagiaan di dunia dan di akherat kelak.


(Sugiarto/CN19/SM Network)