• KANAL BERITA

Bangun Kedekatan Warga Melalui Kupat Jumput

SANTAP KUPAT: Warga mempersiapkan hidangan kupat untuk disantap bersama-sama setelah berdoa di Mushala Al Iman, Kampung Tanjungsari, Pedurungan Tengah.  Tradisi kupat rambut atau kupat jumput masih dilestarikan oleh warga Tanjungsari, Jaten Cilik dan Tlogomulyo. (suaramerdeka.com / Irawan Aryanto)
SANTAP KUPAT: Warga mempersiapkan hidangan kupat untuk disantap bersama-sama setelah berdoa di Mushala Al Iman, Kampung Tanjungsari, Pedurungan Tengah. Tradisi kupat rambut atau kupat jumput masih dilestarikan oleh warga Tanjungsari, Jaten Cilik dan Tlogomulyo. (suaramerdeka.com / Irawan Aryanto)

SEBUAH  tradisi khas menyambut Syawalan dilakukan warga di Tanjungsari, Jaten Cilik dan Tlogomulyo. Seluruh masyarakat keluar dari rumahnya setelah melaksanakan Shalat Subuh berjamaah di masjid atau mushola terdekat, untuk kemudian makan Kupat Jumput bersama-sama.

Kupat Jumput merupakan makanan ketupat yang di tengah-tengahnya disisipkan tauge dengan sambal kelapa, untuk selanjutnya dibagi-bagikan ke seluruh masyarakat di kampung tersebut maupun mereka yang datang bersilaturahmi. Kegiatan ini telah rutin dilaksanakan sejak 1950, sehingga menjadi tradisi yang berkembang selama tiga generasi. Tujuannya, dalam rangka mendekatkan diri antara warga satu dengan lainnya di kampung tersebut.

"Seiring perkembangan jaman, setiap tahunnya perayaan ini berkembang dengan modifikasi tertentu. Walaupun masih tetap dilakukan dengan menyajikan Kupat Jumput di setiap rumah warga. Misalnya saja, ada yang kemudian dilakukan dengan menyalakan petasan dan membagi-bagikan uang secara bergiliran kepada anak-anak kecil,'' ujar Takmir sekaligus Imam Masjid Roudhotul Muttaqien, Munawir (45), Rabu (12/6).

Tradisi Kupat Jumput, kata dia, merupakan sebuah ungkapan rasa syukur yang membuktikan kalau masyarakat telah menjalankan ibadah puasa dengan baik dalam usaha meraih ketakwaan. Diikuti dengan usaha untuk senantiasa bisa menahan diri dari kemarahan dan saling maaf-memaafkan di antara warga di lingkungan masyarakat. Ini diwujudkan melalui terbangunnya kerukunan yang ada di lingkungan masyarakat. Sementara itu, lanjut dia, tujuan dari kegiatan pembagian uang diberikan kepada anak-anak dalam rangka syukuran setelah puasa enam hari Syawal. Menurut orang sekitar, hal itu kemudian dirayakan dengan lebaran kecil yakni Lebaran Syawal.

"Kami menyebut Lebaran Idul Fitri sebagai Lebaran Besar yang kemudian ditandai dengan Sholat Ied dan makan ketupat. Setelah itu, dilanjutkan dengan puasa Syawal selama enam hari, yang kemudian dirayakan melalui Lebaran Kecil. Ditunjukkan dengan mengungkapkan rasa syukur dari orang dewasa kepada anak-anak melalui pembagian uang dan makan ketupat jumput. Anak-anak kecil akan berlarian mengikuti tanda bunyi ketukan di tiang listrik, sebagai tanda kegiatan pembagian uang akan dilakukan oleh seorang warga," tambah dia.

Ungkapan Syukur

Kupat Jumput menandakan sebuah ungkapan syukur yang dilaksanakan melalui sebuah kesederhanaan dari masyarakat yang ada di wilayah Tlogomulyo pada waktu itu. Berisi ketupat yang di dalamnya tauge, kelapa, dan lombok sehingga diolah menjadi sayuran tauge yang dibumbui sambal kelapa yang disisipkan di dalam ketupat.

"Selain itu, kegiatan syukuran melalui kupat jumput untuk menyampaikan pesan bahwa lebaran tidak harus dirayakan dengan bermewah-mewahan. Kalau tidak ada opor ayam, daging dan telur, maka cukup kupat dan tauge masyarakat sudah bisa merayakan lebaran dengan baik," papar dia.

Warga asal Wonosobo yang ikut kegiatan Kupat Jumput di Kampung Jaten Cilik, Aurora Naila Bekti (12), merasa senang karena dirinya mendapatkan tambahan uang yang dapat dgunakan untuk mengisi tabungannya. Dirinya pun sempat terlihat berlarian kesana-kemari dengan riang bersama anak-anak kecil lainnya.

''Saya sekeluarga saat ini masih liburan di tempat nenek di Kampung Jaten Cilik. Biasanya memang di sini saat Syawalan ada kegiatan makan Kupat Jumput sama dapat uang yang dibagi-bagikan warga. Alhamdulillah, saya lumayan dapat uang banyak. Rencananya, uangnya mau ditabung,'' ucap dia secara lugu.

Sementara itu, Takmir Mushala Al Iman, Kampung Tanjungsari, Misbakhun Munir (52), mengatakan, tradisi ini dimulai dengan berkumpulnya warga di mushola untuk membaca ayat-ayat Alquran melalui Tahlilan, usai melaksanakan Sholat Subuh. Warga datang dengan membawa beberapa ragam makanan dan Kupat Jumput, untuk kemudian disantap bersama setelah prosesi Tahlilan dan salam-salaman di antara warganya. Tradisinya memang bervariasi karena telah menyebar ke beberapa kampung di sekitarnya.

"Kalau di Kampung Tanjungsari RT 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 RW 14, kegiatannya dilakukan dengan kumpul bersama warganya di mushola. Tujuannya untuk silaturahmi dan mendekatkan diri antara warga satu dengan lainnya. Agar lebih guyub rukun," terang dia.


(Muhammad Arif Prayoga/CN26/SM Network)