• KANAL BERITA

BEI Upayakan Penambahan Emiten di Solo

KUNJUNGAN BEI : Kunjungan Kepala BEI KC Solo M Wira Adibrata di Universitas Boyolali (UBY), Selasa (11/6), dalam rangka penjajakan kerja sama pembukaan galeri investasi di kampus tersebut. (Foto suaramerdeka.com/Langgeng Widodo)
KUNJUNGAN BEI : Kunjungan Kepala BEI KC Solo M Wira Adibrata di Universitas Boyolali (UBY), Selasa (11/6), dalam rangka penjajakan kerja sama pembukaan galeri investasi di kampus tersebut. (Foto suaramerdeka.com/Langgeng Widodo)

SOLO, suaramerdeka.com - Selain mempertahankan kampus sebagai tempat galeri investasi, Bursa Efek Indonesia (BEI) kantor cabang Solo juga menjajaki kerja sama dengan kantor pelayanan pajak (KPP) Pratama untuk kepentingan yang sama.

Menurut Kepala BEI KC Solo M Wira Adibrata, KPP Pratama dibidik karena di situ bisa diketahui orang yang punya banyak duit, lantaran sebagai tempat pembayaran pajak, baik wajib pajak pribadi atau badan. Sehingga berpotensi untuk menggaet investor baru di pasar modal.

Di samping untuk membidik investor baru, galeri investasi di KPP diharapkan juga bisa mengajak perusahaan besar untuk bisa melantai di pasar modal, dengan menjadi emiten dan menjual saham perdana dalam initial public offering (IPO). Besarnya perusahaan yang dibidik itu bisa dilihat dari pajak yang dibayarkan. Untuk merealisasikan itu semua, pihaknya tengah menjajaki kerja sama ini dengan KPP Pratama Surakarta.

"Saya melihat potensinya besar, terutama dari perusahaan tekstil. Di Solo sudah ada 4 perusahaan yang masuk bursa, semoga dengan upaya ini bisa bertambah," kata Wira ketika ditemui di kantornya, Rabu (12/6).

Sementara itu terkait transaksi di pasar modal, terjadi aktifitas yang menggairahkan. Menurut Wira, kondisi itu tentu menyenangkan lantaran selama bulan Ramadan kondisinya lesu, sebelum ditutup selama sepekan karena libur lebaran. Lesunya aktifitas di pasar modal akibat kondisi perekonomian domestik dan pasar global yang tidak mendukung.

"Saat dibuka di hari pertama setelah lebaran, Senin 10 Juni, aktifitas ramai, banyak investor melakukan aksi jual beli karena ada kenaikan harga saham dari beberapa emiten. Harga saham Telkom yang semula Rp 3.500 menjadi lebih dari Rp 4.000. Demikian juga dengan harga saham lainnya, seperti Bank Mandiri, BRI, dan BNI," kata Wira memberi contoh.

Hal senada dikatakan manager representative officer PT RHB Sekuritas Solo Lius Andy Hartono. Menurut dia, uforia di pasar modal di hari pertama setelah dibuka pasca libur lebaran dipengaruhi oleh aktifitas bursa efek di pasar global dan kenaikan peringkat rating kredit pemerintah.

"Setelah ditotal ada kenaikan harga saham sekitar tiga persen, sehingga investor beramai-ramai berani melakukan transaksi," kata Andy.


(Langgeng Widodo/CN19/SM Network)