• KANAL BERITA

Diduga Akibat Balon Udara Liar, Rumah Warga Ngadisalam Sapuran Terbakar

Kondisi rumah Rahmat Giyaman (39), warga Dusun Candi RT 02 RW 02 Desa Ngadisalam Kecamatan Sapuran , Wonosobo yang hangus terbakar diduga akibat balon udara liar disertai sumbu dan kompor, Selasa (11/6) sore. (Foto suaramerdek.com/M Abdul Rohman)
Kondisi rumah Rahmat Giyaman (39), warga Dusun Candi RT 02 RW 02 Desa Ngadisalam Kecamatan Sapuran , Wonosobo yang hangus terbakar diduga akibat balon udara liar disertai sumbu dan kompor, Selasa (11/6) sore. (Foto suaramerdek.com/M Abdul Rohman)

WONOSOBO, suaramerdeka.com - Diduga akibat balon udara yang diterbangkan secara liar disertai sumbu dan kompor, sebuah rumah di Dusun Candi RT 02 RW 02 Desa Ngadisalam Kecamatan Sapuran, Wonosobo hangus terbakar, Selasa (11/6) sekitar pukul 12.30. Kejadian baru dilaporkan kepada pihak kepolisian sekitar pukul 16.30. Beruntung peristiwa tersebut tidak menyebabkan jatuhnya korban.

Wakapolres Wonosobo Kompol Sopanah mengaku, pihaknya sudah maksimal dalam memberikan pengawasan dan menertibkan penerbangan balon udara secara liar. Namun, dengan adanya kejadian itu, pihaknya mengaku kecolongan dengan tindakan oknum warga yang mengatasnamakan tradisi, namun hal itu sesungguhnya membahayakan lingkungan masyarakat maupun kegiatan penerbangan.

Menurut dia, dari laporan yang diterimanya, kebakaran menimpa rumah Rahmat Giyaman (39) warga Dusun Candi RT 02 RW 02 Desa Ngadisalam Kecamatan Sapuran. Berdasarkan keterangan saksi-saksi, yakni Eru Endarwati (30) seorang penjahit dan Wantri (30) seorang buruh dan Wayatul F (28) seorang ibu rumah tangga yang merupakan tetangga korban, kejadian kebakaran terjadi, Selasa (11/6) sekitar pukul 12.30.

Dijelaskan, kronologi kejadian berawal saat saksi Eru Endarwati sedang di dalam rumah, tiba-tiba mendengar adanya suara seperti barang terbakar. Setelah keluar rumah, saksi Eru mendapati di atap rumah milik Rahmat Giyaman sudah terbakar. Kemudian saksi Eru langsung berteriak-teriak memanggil suaminya dan kemudian berusaha masuk ke dalam rumah untuk berusaha memadamkan api tersebut.

Tidak lama, kemudian warga pun berdatangan ikut berupaya membantu memadamkan kobaran api, sehingga akhirnya api berhasil dipadamkan. 
Bagian rumah yang terbakar antara lain atap rumah bagian tengah atau talang, beserta eternitnya yang terbuat dari anyaman bambu. "Sebab kebakaran, kobaran api diperkirakan berasal dari balon udara yang turun di atap rumah," ujarnya.

Diduga sumbu balon udara tersebut masih menyala, sehingga membakar bagian atap rumah atau talang yang terbuat dari karet.
Sedangkan untuk balon udara tersebut, tidak diketahui asal usulnya. Namun tiba-tiba jatuh di atas rumah korban. Dari perkiraan beberapa saksi, balon udara tersebut berasal dari arah utara atau arah barat. "Bahkan Kepala Desa Ngadisalam, Bapak Kabul pun meyakini balon udara itu bukan dari warganya," beber Sopanah.

Atas laporan kejadian kebakaran itu, tindakan yang dilakukan pihak kepolisian yakni mendatangi tempat kejadian perkara (TKP), mencatat saksi-saksi, membuat laporan kepada pimpinan dan memberikan himbauan kepada warga untuk tidak menerbangkan balon udara secara liar. "Kami masih mengadakan penyelidikan terhadap pelaku penerbangan balon liar tersebut. Karena tindakan mereka membahayakan orang lain," jelasnya.

Beruntung kejadian itu tidak menyebabkan jatuhnya korban. Namun korban mengalami kerugian materi sebanyak Rp 8 juta. "Akibat balon udara liar berdampak pada orang lain yang jadi korban. Apakah tradisi penerbangan balon udara tetap untuk dilestarikan? Barangkali bapak ibu yang ada di group ini dapat berperan untuk menghilangkan tradisi yang dapat membahayakan orang lain," imbaunya di salah satu group WhatsApp Wonosobo. 


(M Abdul Rohman/CN19/SM Network)