• KANAL BERITA

Mari Menikmati “Ritual” Seni Menumpuk Batu

Rock balancing di Kali Gelis Sirahan. (Foto suaramerdeka.com/dok)
Rock balancing di Kali Gelis Sirahan. (Foto suaramerdeka.com/dok)

BAYANGKANLAH, mungkinkah batu-batu kali ditumpuk bersusun-susun dan bisa tegak tanpa goyah? 

Amati pula, posisi dan ukuran tiap batu itu “di luar logika”. Ada yang miring, ada yang berbentuk menyilang, juga ada yang berukuran besar justru diletakkan paling atas, dan seterusnya. Jadilah susunan batu mirip dengan ornamen cecandian pada masa silam, dan orang awam boleh jadi akan ternganga berkomentar, “Kok bisa ya batu-batu itu tidak jatuh...”

Di Desa Sirahan, Cluwak, Pati, rock balancing ini menjadi salah satu ekspresi keahlian yang mewarnai aktivitas kaum mudanya. Pemrakarsanya, Masruri menuturkan, tumpukan batu itu bisa berdiri tanpa perekat apa pun, karena disusun dengan seni “ilmu keseimbangan”. Dia mendapatkan kemampuan itu dari “rumus ketelatenan” dalam kesabaran mencoba, mencoba, dan terus mencoba.

Mula-mula, Masruri mendapatkan ide rock balancing itu karena terinspirasi oleh berita dari berbagai media pada 2018 tentang penemuan batu-batu yang bersusun “nyeni” di Sungai Cidahu, Sukabumi, Jawa Barat. Waktu itu, banyak orang yang berspekulasi, batu-batu bersusun itu merupakan produk keterampilan seni, atau hasil dari kekuatan magis. “Temuan” itu sempat dibubarkan oleh pemerintah setempat karena dikhawatirkan menimbulkan syirik. Ketika itu Masruri sudah menduga, pastilah ada orang yang dengan taste seni keseimbangan yang mampu membuat instalasi tumpukan batu-batu tersebut.

Lalu terpikirlah oleh ayah dua anak itu untuk mencoba mempraktikkan menyusun bebatuan di Kali Gelis, sebuah sungai kaya batu yang terletak di lembah Damarwulan yang masuk wilayah Kabupaten Jepara. Kebetulan, dia punya “ritual” rutin jalan sehat sekaligus hiking dan refreshing ke lingkungan Kali Gelis. 

Dia kemudian mengambil sejumlah batu, mencoba menyusunnya, namun beberapa kali batu-batu yang disusun itu selalu roboh berjatuhan. Makin sering roboh, makin tertantanglah dia untuk terus mencoba. Dengan penuh rasa penasaran, sampai hampir selama satu bulan penuh mencoba-coba, akhirnya dia menemukan “rumus keseimbangan” yang dibutuhkan dalam menyusun batu-batu itu.

Setiap pulang dari Kali Gelis dia selalu membawa sejumlah batu di dalam tas pinggangnya. Di rumah, dia kembali berlatih dengan batu-batu itu untuk mencari titik fokus keseimbangan, sampai akhirnya dia pun menemukan “rumus” sendiri untuk menjaga agar batu bersusun itu tidak berjatuhan. Ada unsur “perasaan” yang harus dieksplorasi untuk mampu menjaga agar batu-batu itu tetap dalam keseimbangannya. Ketika “rasa” sudah ditemukan, tiap kali menyusun otomatis dia mampu memosisikan batu-batu itu sesuai kebutuhan konfigurasinya.

“Tanda-tanda seseorang itu sudah profesional atau belum dalam menyusun bebatuan, adalah bagaimana dia memilih ukuran batu yang ditempatkan di paling atas. Yang sudah ahli pasti akan menyusun dengan struktur batu-batu kecil di lapisan bawah, dan makin ke atas ukurannya makin besar,” kata penulis buku-buku metafisika itu.

Kegiatan itu akhirnya terpublikasi ke masyarakat setelah Masruri memosting foto-foto rock balancing itu di akun facebook-nya. Sambutan publik luar biasa. Banyak yang menanyakan, ada pula yang belajar dengan datang ke rumah. Tak sedikit pula yang “belajar jarak jauh” dengan meng-inbox hasil-hasil penyusunan batunya, lalu meminta masukan dengan mengontak langsung.

Buntutnya, peminat dari luar negeri seperti Arab Saudi, Hong Kong, dan Korea Selatan pun menghubungi Masruri. Para tenaga kerja Indonesia (TKI) dan anak-anak majikan mereka tertarik belajar. Para TKI bahkan sampai iuran mengumpulkan uang untuk meminta kiriman batu dari Sirahan yang digunakan berlatih bersama. 

“Ini sebenarnya kegiatan refreshing yang bermanfaat untuk melatih berbagai hal. Ada keasyikan tersendiri mengotak-atik susunan batu di waktu senggang. Saya banyak mengirim batu-batu Kali Gelis, lalu mereka mentransfer harga batu dan ongkos kirimnya. Inilah mungkin pertama kali dalam sejarah, bebatuan Kali Gelis menembus pasar ekspor,” tuturnya.

Masruri rata-rata mengirim bebatuan dengan berat 10 kg, dan itu dihargai Rp 1,5 juta dengan ongkos kirim -- misalnya -- ke Saudi Rp 2.800.000-an.

Mendalami Keseimbangan

Secara global, “permainan” menyusun batu itu, menurut Masruri juga banyak dilakukan oleh orang-orang Eropa. Terutama mereka yang belajar pencak silat dan mendalami ilmu keseimbangan. Seni menyusun batu itu akan meningkatkan “rasa” keseimbangan mereka.

Di desanya, Masruri sudah pernah menyelenggarakan lomba menyusun batu yang diikuti oleh anak-anak muda Sirahan dan sekitarnya di Kali Gelis. Dia merencanakan, dalam peringatan HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus tahun ini akan mengadakan lomba serupa yang juga terbuka untuk orang-orang di luar desanya.

Rock balancing pun kini betul-betul mulai memasyarakat di desa yang berbatasan dengan Kabupaten Jepara dan Kudus itu. Sejumlah sekolah dan pondok pesantren juga mengirim wakil-wakilnya untuk dilatih seni menyusun batu.

Setidak-tidaknya, “wabah” menyusun bebatuan ini memberi tambahan warna kegiatan di Sirahan. “Manfaat lebih besar, seperti yang saya baca dari analisis dr Frandy Susiata SapS dari RS Siloam Kebon Jeruk lewat detik.com adalah mencegah pikun, mencegah tremor, melatih konsentrasi, melatih kesabaran, dan melatih rasa percaya diri,” ungkap Masruri.

Jadi, datanglah ke Sirahan. Anda bisa berelaksasi sambil berwisata menyusun bebatuan di Kali Gelis.


(Amir Machmud/CN19/SM Network)