• KANAL BERITA

Sirahan Mempertahankan Tradisi "Wong Sak-Desa Salaman Kabeh"

Oleh Amir Machmud NS

MENGULAR: Warga Sirahan peserta tradisi "Wong Sak-Desa Salaman Kabeh" mengular bersilaturahim. (suaramerdeka.com / Amir Machmud NS)
MENGULAR: Warga Sirahan peserta tradisi "Wong Sak-Desa Salaman Kabeh" mengular bersilaturahim. (suaramerdeka.com / Amir Machmud NS)

KHOIRUL  Anwar selalu setia menanti momen ini, "Wong Sak-Desa Salaman Kabeh". Dan, tradisi itu hanya ada pada saat Lebaran, selepas shalat id di Masjid Baiturrohim, Desa Sirahan, Cluwak, Pati. Tradisi silaturahim sekaligus halalbihalal dan tahlil ziarah kubur itu digelar di lapangan sekolah Perguruan Darul Falah desa tersebut.

Bagi Khoirul, juga orang-orang Sirahan yang bekerja di luar daerah, silaturahim itu selalu dinanti sebagai momen yang romantik. "Hebatnya, acara ini bisa dipertahankan secara turun temurun, dari sejak nenek moyang sampai generasi sekarang. Kami selalu menunggunya," tutur dosen Fakultas Agama Islam Unissula Semarang itu.

Mulanya, tradisi ini diadakan di kompleks Masjid Baiturrohim di pusat desa, setelah rangkaian shalat id selesai. Akan tetapi sejak awal 1990-an, disepakati pindah ke halaman kompleks Perguruan Darul Falah yang berlokasi di sebelah kiri makam desa.

Masruri, salah seorang warga mencatat, dari generasi ke generasi penduduk Sirahan, makin banyak warga yang mengikuti acara ini. "Faktanya, memang makin banyak warga yang bermigrasi ke kota-kota, tetapi mereka pun pada tiap Lebaran mudik ke Sirahan antara lain untuk menikmati acara ini," katanya.

Hampir selama dua jam, peserta salam-salaman mengular dari ujung ke ujung lapangan. Mereka harus sabar mengantre. Aneka ekspresi dapat dilihat setiap kali orang-orang tertentu bertemu kerabat, sahabat waktu sekolah, atau menyalami teman yang sudah lama tidak bertemu. Banyak terucap pertanyaan, "Siapa anak ini?", "Siapa dia?", "Kok sudah besar?", "Si A sekarang di mana?", dan sebagainya.

Suasana keakraban terjalin di sepanjang acara yang ditutup dengan doa tahlil penziarahan untuk para ahlil-qubur dan tetua desa yang sudah tiada.

Jadi Empat Masjid

Pada Idul Fitri tahun ini, untuk kali pertama jamaah Masjid Baiturrohim dipecah ke masjid baru yang berada di Kampung Bakalan di Sirahan Lor, sekitar 500 meter dari masjid pusat. Sebelum ini juga telah didirikan masjid di Kampung Nggili Kidul dan Nggili Lor yang mendirikan shalat jamaah sendiri, sehingga terdapat empat masjid di desa yang berdekatan dengan perbatasan Kabupaten Jepara itu.

"Nyatanya, walaupun sekarang jadi empat masjid, jamaah Baiturrohim tidak berkurang. Warga yang datang ke silaturahim di halaman Darul Falah juga seperti terus bertambah. Anda bisa melihat sendiri tadi," tutur Carik Desa, Muhammad Kusnin.

Sekitar 3.700 penduduk Sirahan, menurut Kusnin, bekerja sebagai petani, pedagang, pegawai negeri, juga tak sedikit yang bermigrasi ke kota-kota dengan keahlian masing-masing, baik dalam kompetensi sebagai guru, ustadz, kontraktor, pedagang, paramedis, tukang kayu, tukang batu, hingga sopir. "Mereka, pada tiap Lebaran mudik ke Sirahan dan tidak melepaskan kesempatan menghadiri halalbihalal massal ini," ucapnya.

Warga yang lain, Mahmud menilai, tradisi "Wong Sak-Desa Salaman Kabeh" inijuga dijadikan kesempatan untuk bisa bertemu dengan saudara-saudara, teman lama, dan anak-anak generasi baru Sirahan yang belum dikenalnya. "Jadi kalau nanti tidak berkesempatan silaturahim ke rumah kerabat dan teman-teman, acara ini bisa menjadi semacam ganti reuni," kata karyawan swasta di Semarang itu.

Eksotika silaturahim ini, sepengetahuan warga Sirahan, Achmad Munir, tidak didapati di desa-desa yang lain di Kecamatan Cluwak. "Tanpa upaya-upaya khusus untuk melestarikan, rasanya warga Sirahan otomatis akan terus mempertahankan tradisi yang baik ini. Jadi, walaupun berlangsung pergeseren budaya hidup masyarakat, saya yakin acara ini akan tetap lestari," katanya.


(Red/CN26/SM Network)