• KANAL BERITA

''Bayi Lahir Memilih HP Dibanding Susu''

Workshop Jurnalistik dan Medsos

BUKA WORKSHOP : Kepala SKB Batang, Sukrisyadi, membuka Workshop Jurnalistik dan Medsos. (suaramerdeka.com / dok)
BUKA WORKSHOP : Kepala SKB Batang, Sukrisyadi, membuka Workshop Jurnalistik dan Medsos. (suaramerdeka.com / dok)

SMARTPHONE atau telepon pintar yang akrab disebut handphone (HP) sangat mewarnai setiap denyut kehidupan manusia di Era Millenial ini. Jika dirata-rata, hampir 75 persen kehidupan anak-anak hingga dewasa tak bisa lepas dari HP.

Hal itu diungkapkan Kepala Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Batang, Sukrisyadi, saat membuka Workshop Jurnalistik dan Media Sosial (Medsos) yang bertema
'Hati-hati dengan Jarimu, Santun dalam Bermedsos', di aula SKB, Selasa (28/5).

"Perhatikan di sekeliling kita, dari anak-anak hingga usia dewasa, hampir setiap hari, setiap saat, berselancar di dunia maya. Mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur, tangan dan mata kita tak pernah lepas dari HP. Berselancar di dunia maya, aktif medsos, mulai dari facebook, twitter, instagram, WhatsApp, dan lain-lain," jelasnya.

Bahkan, lanjut dia, saat mengambil air wudlhu, ke kamar kecil, mandi, bangun tidur, HP adalah ''sahabat'' terdekat manusia Millenial. Akibat terlalu asyik berselancar di dunia maya, ngobrol bersama teman di dunia maya, begitu juga dengan keluarga seperti ayah, ibu, kakak, adik, om, tante, keponakan, tetangga, kerabat jauh, dll, banyak yang lupa bersilaturahmi dan menjalin ukuwah di dunia nyata.

"Bahkan, tak jarang kita begitu akrab di medsos dengan banyak orang, namun bertemu di dunia nyata belum pernah sekalipun. Ini bukan hal yang aneh. Tak salah juga jika ada anekdot, bayi Millenial begitu lahir lebih memilih HP dari pada diberi susu," kata dia.

Berhati-hati

Lebih jauh, Sukrisyadi mengimbau agar para peserta workshop yang terdiri atas siswa SMA, SMK, dan Kejar Paket C, untuk berhati-hati dalam bermedsos. "Bijaklah dalam bermedsos. Dulu ada pepatah, 'Mulutmu harimaumu'. Saat ini berganti menjadi, 'Jempol/jari-jarimu harimaumu'. Jangan mudah updat status jika tidak sangat penting. Sebab, jika itu melanggar hukum (UU ITE) maka kita bisa berperkara di meja hijau,'' katanya.

Dia juga wanti-wanti kepada peserta workshop agar berhati-hati mengambil gambar seseorang. Harus izin orang yang dipotret. Sebab, jika yang bersangkutan tidak berkenan, bisa diperkarakan. Atau, paling tidak bisa dilaporkan ke petugas yang berwenang sebagai paparazi.

"Meski gambar atau aplod di medsos itu sudah dihapus, namun jejaknya bisa ditelusuri melalui digital forensik. Jadi berhati-hatilah dengan jempol atau jari-jari tangan kalian. HP bisa melenyapkan masa depan kalian jika digunakan dengan cara tidak bijak. Sebab, HP adalah personifikasi pribadi kalian," katanya.

Pembicara workshop, Ali Arifin dari Suara Merdeka, banyak mendapat pertanyaan dari peserta seputar berita hoax. ''Teman saya demikian mempercayai berita di medsos. Padahal berita itu menurut saya tidak benar alias hoax. Bagaimana cara meyakinkan kepada teman saya agar tidak mudah percaya dengan berita-berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya?'' tanya Aulia, siswa SMA Ponpes Selamat, Batang.

Ali menjelaskan bahwa banyak berita di medsos tanpa sumber yang layak dipercaya, sehingga masyarakat sulit melakukan konfirmasi atas kebenaran berita-berita tersebut. "Jenis-jenis berita atau informasi seperti ini sebaiknya tidak usah dianggap. Nggak usah baper dengan berita-berita yang tidak jelas sumbernya. Kalau mau berita yang benar sebaiknya baca situs-situs berita resmi di internet," jelasnya.


(Ali Arifin/CN26/SM Network)