• KANAL BERITA

Masyarakat Diminta Aktif Mengamankan Cagar Budaya

BENDA ARKEOLOGI: Anggota Komunitas Peduli Budaya (KPB) Randugunting, Bergas, Kabupaten Semarang bersama tim teknis Disdikbudpora Kabupaten Semarang melakukan kajian atas sejumlah struktur batuan candi atau benda arkeologi di tepi aliran sungai yang mengalir di Lingkungan Kutan, Randugunting, belum lama ini.(Foto suaramerdeka.com/Ranin Agung)
BENDA ARKEOLOGI: Anggota Komunitas Peduli Budaya (KPB) Randugunting, Bergas, Kabupaten Semarang bersama tim teknis Disdikbudpora Kabupaten Semarang melakukan kajian atas sejumlah struktur batuan candi atau benda arkeologi di tepi aliran sungai yang mengalir di Lingkungan Kutan, Randugunting, belum lama ini.(Foto suaramerdeka.com/Ranin Agung)

UNGARAN, suaramerdeka.com - Seluruh lapisan masyarakat diminta ikut mengamankan dan melaporkan keberadaan benda cagar budaya. Hal itu tertuang dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010, yang jelas mengamanatkan, bila kegiatan pelestarian cagar budaya harus dilaksanakan atau dikoordinasikan oleh tenaga ahli pelestarian dengan memperhatikan etika pelestarian.

“Ketentuan itu terus kita sosialisasikan, dengan tujuan agar masyarakat ikut peduli terhadap cagar budaya yang ada,” kata Plt Kepala Disdikbudpora Kabupaten Semarang Sukaton Purtomo, melalui Kasi Kesejarahan Museum dan Purbakala, Etty Dwi Lestari, Minggu (26/5).

Belum lama ini, pihaknya sudah melakukan konservasi cagar budaya yang tersebar di beberapa wilayah termasuk yang ada di Museum Pandanaran Kabupaten Semarang. Adapun terkait ekskavasi, menurutnya belum dilakukan.

“Apabila ada laporan temuan baru kami langsung tindaklanjuti. Pencatatan tetap dilakukan dan teregristasi nasional, Kabupaten Semarang terbilang cukup banyak temuan serta tertib data administrasinya,” imbuhnya.

Konservasi yang dilakukan melibatkan pakar yang membidangi serta staf maupun tim teknis Disdikbudpora Kabupaten Semarang yang sudah mendapat sertifikasi kompetensi itu diperuntukkan bagi sejumlah benda cagar budaya seperti batu, mata uang, dan kayu. Kemudian berdasarkan kajian awal, langsung diserahkan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jawa tengah mengingat sejauh ini pihaknya belum mempunyai tim teknis khusus cagar budaya.

“Dari hasil kajian tim teknis akan ditimbang, dibuat peringkat. Apakah masuk ranah pemerintah kabupaten/kota, provinsi, atau ranah nasional. Jika masuk benda cagar budaya yang langka, nanti penemunya bakal diberi imbalan atau konservasi,” paparnya.

Bagaimanapun juga, lanjut Etty, Disdikbudpora Kabupaten Semarang hanya bisa menghimbau masyarakat dan khalayak ramai ikut menyelamatan keberadaan cagar budaya. Data yang dihimpun menyebutkan, benda cagar budaya yang tergolong bangunan meliputi masjid, gereja, candi, stasiun, serta beteng tercatat ada 112 unit. selanjutnya, benda cagar budaya bergerak atau bisa dipindahkan lokasinya seperti patung, yoni, lingga, ada 1.220 unit.

“Mengacu UU Nomor 11/2010 ada lima kategori cagar budaya, berupa situs, benda, bangunan, kawasan, serta struktur. Kami pun sangat mengapresiasi seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Semarang yang terbilang intens menyelamatkan cagar budaya,” tukasnya.


(Ranin Agung/CN19/SM Network)